Futsal Indonesia Kini Menanti Sejarah dengan Kepala Tetap Tegak

Yogi Saputra
DAPAT PENGALAMAN: Pemain timnas futsal Indonesia asal Kota Cirebon, Yogi Saputra, tampil pada final Piala Asia 2026 di Indonesia Arena, Sabtu (7/2). Foto: PSSI.CO.ID
0 Komentar

JAKARTA – Timnas futsal Indonesia memang belum berhasil mengangkat trofi Piala Asia Futsal 2026. Namun sejarah tidak runtuh hanya karena satu kegagalan.

Ia tidak hilang, hanya menunggu waktu yang lebih tepat untuk lahir.

Di partai final yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (7/2) malam, Indonesia harus mengakui keunggulan Iran lewat cara paling menyakitkan dalam sepak bola dan futsal: adu tendangan penalti.

Baca Juga:Kunjungi Kuningan, Wamendagri Akhmad Wiyagus Sambangi SPPG KasturiGelar Town Hall Meeting, Kilang Pertamina Balongan Paparkan Kinerja Positif 2025

Sebuah mekanisme yang mereduksi kerja kolektif selama 50 menit menjadi duel mental antara kaki dan keyakinan.

Iran keluar sebagai pemenang dengan skor 5–4 dalam adu penalti, setelah laga yang penuh drama, kelelahan, keindahan, dan absurditas berakhir imbang 5–5. Pertandingan itu seperti sengaja dirancang untuk menguji batas emosi.

Sepanjang laga, Indonesia berkali-kali berada di depan. Iran berkali-kali mengejar. Seakan setiap keunggulan harus diuji ulang, setiap harapan dipaksa bernegosiasi dengan kenyataan.

Israr Megantara mencetak tiga gol. Ahmad Habiebie menggagalkan penalti. Indonesia unggul 2–1, 3–1, 4–3, bahkan 5–4 di babak tambahan.

Namun Iran, dengan koleksi 14 gelar Asia, menolak tunduk pada kisah romantis tuan rumah yang siap mencetak sejarah.

Mereka memilih jalur pengalaman: tenang, sabar, dan percaya bahwa waktu sering berpihak kepada mereka yang tak panik.

Indonesia, di sisi lain, tampil dengan keyakinan penuh bahwa mereka layak berada di panggung final.

Baca Juga:Tingkatkan Kualitas Pelayanan, RSUD Indramayu Gelar Training Transformasi Budaya dan PerilakuDiskatan Kuningan: Lindungi Petani dari Tengkulak dan Pastikan Harga Sesuai HPP

Tim asuhan Hector Souto itu bermain tanpa rasa gentar. Mereka cepat, berani, dan jujur dalam ambisi, meski terkadang masih diwarnai kecerobohan khas tim yang sedang tumbuh.

Gol-gol Indonesia mengalir seperti gagasan segar yang belum takut salah. Iran bermain sebaliknya: rapi seperti arsip hidup, tahu kapan harus menunggu, dan paham bahwa pengalaman adalah senjata terakhir.

Ketika skor 5–5 bertahan hingga perpanjangan waktu berakhir, adu penalti terasa seperti penutup yang kejam namun sah. Dua eksekutor Indonesia gagal.

Iran menang. Statistik mereka bertambah. Namun Indonesia tidak kalah karena inferior, melainkan karena belum sepenuhnya terbiasa berada di posisi pemenang.

Usai laga, Hector Souto memilih kata-kata yang jarang terdengar di olahraga kita. Ia mengaku bangga, tanpa euforia berlebihan.

0 Komentar