Ia memuji mental pemain, namun tetap mengakui adanya jarak kualitas dengan Iran dan Jepang.
Souto bahkan berkata bahwa jika turnamen ini diulang dua pekan kemudian, Indonesia belum tentu kembali mencapai final.
Sekilas terdengar pesimistis, tetapi sejatinya itu adalah kejujuran metodologis, cara melihat proses secara jernih, tanpa ilusi.
Baca Juga:Kunjungi Kuningan, Wamendagri Akhmad Wiyagus Sambangi SPPG KasturiGelar Town Hall Meeting, Kilang Pertamina Balongan Paparkan Kinerja Positif 2025
Dalam konteks olahraga Indonesia, pernyataan itu terasa penting. Ia mengingatkan bahwa kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan kejernihan dalam membaca diri sendiri.
Timnas futsal Indonesia, malam itu, cukup jujur menilai posisinya: cukup kuat untuk menantang raja Asia, tetapi belum cukup matang untuk merebut mahkota.
Meski gagal juara, capaian ini tetap sebuah keberhasilan besar.
Di sinilah ironi muncul. Ketika futsal, cabang olahraga yang minim sorotan dan intrik, mampu bertarung hingga detik terakhir melawan kekuatan terbesar Asia, sepak bola lapangan Indonesia justru kerap tersandung jauh sebelum pertandingan dimulai, terjebak dalam persoalan administratif dan konflik internal yang tak kunjung usai. (mid)
