BSI Ubah Peta Perbankan Indonesia

kinerja BSI tahun buku 2025
KINERJA BSI: Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah), Direktur Distribution and Sales BSI Anton Sukarna (kiri), Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho (dua dari kiri), Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta (dua dari kanan), dan Direktur Risk Management BSI Grandhis H. Harumansyah (kanan) saat memaparkan kinerja BSI tahun buku 2025 di Kantor Pusat BSI. FOTO: BSI FOR RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025. Ditopang kondisi ekonomi makro yang stabil serta dukungan kebijakan pemerintah, khususnya izin sebagai bullion bank, hampir seluruh indikator kinerja BSI tumbuh dua digit, melampaui rata-rata industri.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, dalam pemaparan kinerja perusahaan tahun buku 2025 menyampaikan bahwa hingga Desember 2025, BSI menyalurkan pembiayaan sebesar Rp318,84 triliun, tumbuh 14,49 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Penyaluran pembiayaan tersebut mayoritas diarahkan ke segmen pro-rakyat, seperti UMKM, mikro, konsumer, komersial bidang pendidikan dan kesehatan, aparatur sipil negara (ASN), serta badan usaha milik negara (BUMN), dengan total outstanding mencapai Rp285,70 triliun atau sekitar 90 persen dari total pembiayaan.

Baca Juga:Bukan Sekadar Pelapor Peristiwa, Walikota: Pers Fondasi Nalar Publik yang SehatTinjau Brigif TP 31 dan Yonif TP 875 di Dompu, Menhan Sjafrie Tekankan TNI Harus Bermanfaat bagi Rakyat

“Penyaluran pembiayaan ke segmen ritel, UMKM, BUMN, ASN, serta sektor pendidikan dan kesehatan merupakan komitmen kami dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Anggoro.

Menurutnya, kinerja solid BSI pada 2025 ditopang oleh fungsi intermediasi yang berjalan optimal, dukungan pendanaan yang memadai, serta penyaluran pembiayaan yang sehat dan tepat sasaran.

“Kinerja ini juga didukung pembiayaan program yang sejalan dengan Astacita Pemerintah,” tambahnya.

Dari sisi kualitas pembiayaan, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross tercatat sebesar 1,81 persen, membaik dibandingkan tahun sebelumnya, sementara NPF net berada di level 0,47 persen.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga melampaui industri, yakni sebesar 16,20 persen (YoY) menjadi Rp380 triliun. Dana murah (CASA) mendominasi dengan porsi 61,62 persen atau Rp234 triliun. Sementara tabungan tumbuh 15,72 persen (YoY) menjadi Rp162,63 triliun.

Seiring pertumbuhan DPK, total aset BSI meningkat 11,64 persen (YoY) menjadi Rp456 triliun.

Sementara itu, Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, menyebut kinerja positif tersebut juga ditopang optimalisasi dual license yang dimiliki perseroan, yakni sebagai bank syariah dengan ekosistem Islami serta sebagai bullion bank.

Baca Juga:Kasus Ketua PN Depok Jadi Ujian Serius Integritas Hakim dan Pengawasan PeradilanLomba Hafidz Cilik Jadi Program Unggulan TK Baitul Makmur

“Tahun ini kami melakukan sosialisasi Tabungan Haji kepada pegawai negeri di daerah. Hasilnya signifikan terhadap peningkatan DPK, terutama Tabungan Haji yang tumbuh lebih dari 10 persen,” ujarnya.

0 Komentar