Pada usia 12 tahun, Agung mulai menemukan ritme dan gaya melukisnya sendiri. Ia lebih menyukai aliran realisme dan semi-realisme, meski tetap terbuka mengeksplorasi gaya lain.
Agung sempat menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) jurusan desain grafis. Namun, keterbatasan akses komunikasi di kelas reguler membuatnya hanya bertahan hingga semester empat.
Karena proses pembelajaran sangat bergantung pada penjelasan lisan, Agung akhirnya berhenti dan melanjutkan studi di jurusan Pendidikan Luar Biasa. Dengan bakat dan ketekunannya, Agung terus mengembangkan diri hingga menjadi seniman seperti saat ini. (cep)
