CIREBON-Kondisi pertanian di Kabupaten Cirebon terus menghadapi tantangan, terutama pada tahap pengolahan lahan pasca panen.
Peralihan metode panen dari tenaga manual ke mesin combine harvester memang membuat pekerjaan petani lebih praktis dan efisien.
Namun, di sisi lain berdampak pada kondisi tanah yang menjadi lebih keras dan sulit diolah kembali.
Baca Juga:1.000 Nelayan di Kabupaten Indramayu Terlindungi BPJS KetenagakerjaanPengurus HIPMI IPB Cirebon Resmi Dilantik, Dorong Mahasiswa Ciptakan Lapangan Kerja
Untuk menjawab persoalan tersebut, Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian Provinsi Jawa Barat melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Plumbon meluncurkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda empat di Desa Kertasari Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon, kemarin.
Traktor tersebut digunakan untuk mengolah lahan pertanian seluas 7,5 hektare yang akan kembali ditanami padi.
Petani penggarap lahan, Surya, menuturkan bahwa lahan tersebut sebelumnya mengalami beberapa kali perubahan komoditas.
Awalnya ditanami padi, kemudian beralih menjadi lahan tebu selama sekitar 10 tahun, dan dalam beberapa tahun terakhir ditanami singkong.
“Sekarang rencananya mau ditanami padi lagi, jadi lahannya memang harus diolah ulang dari awal karena kondisinya cukup keras,” ungkap Surya.
Dengan lahan yang cukup luas, Surya mengakui pengolahan secara manual akan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, kehadiran traktor roda empat dinilai sangat membantu dan lebih efisien.
Kepala Satpel Plumbon Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian Provinsi Jawa Barat, Yayat Supriatna, menjelaskan bahwa traktor roda empat pada prinsipnya memiliki fungsi yang sama dengan traktor roda dua atau hand traktor, yakni untuk pengolahan lahan.
Baca Juga:Dinkes Pastikan Belum Ditemukan Kasus Virus Nipah di Kabupaten IndramayuIKAL FISIP UIN Jakarta Nilai Penyediaan Lahan Gedung MUI sebagai Dukungan Negara bagi Umat Islam
Namun, perbedaannya terletak pada kemampuan kerja di kondisi tanah tertentu. “Traktor roda dua itu cocok untuk lahan yang gembur atau mudah terurai. Kalau traktor roda empat ini lebih efektif untuk lahan yang keras, biasanya setelah panen menggunakan combine, karena bobot combine cukup berat dan membuat tanah menjadi padat,” jelasnya.
Menurut Yayat, penggunaan traktor roda empat diharapkan dapat mengatasi kendala pengolahan lahan pasca panen dan mempermudah pekerjaan petani.
Dari sisi kapasitas, alat tersebut secara teoritis mampu mengolah lahan hingga 4–5 hektare per hari, namun pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kondisi lapangan.
