“Kami realistis saja. Untuk kondisi seperti ini, targetnya sekitar 2 sampai 3 hektare per hari. Itu juga agar mesinnya tidak dipaksakan dan bisa beroperasi optimal,” ujarnya.
Terkait sistem pemanfaatan, Yayat menyebut alsintan tersebut digunakan dengan skema pinjam pakai melalui kelompok tani. Satpel hanya meminjamkan alat, sementara kebutuhan operasional seperti bahan bakar, operator, dan perawatan menjadi tanggung jawab peminjam.
“Setelah selesai digunakan, alat akan dikembalikan lagi ke Satpel. Ini sistemnya pinjam pakai,” katanya.
Baca Juga:1.000 Nelayan di Kabupaten Indramayu Terlindungi BPJS KetenagakerjaanPengurus HIPMI IPB Cirebon Resmi Dilantik, Dorong Mahasiswa Ciptakan Lapangan Kerja
Lebih jauh, Yayat menilai mekanisasi pertanian di Cirebon memiliki prospek yang baik. Hampir seluruh proses panen kini telah menggunakan mesin combine harvester karena dinilai lebih praktis, mudah, dan hemat biaya.
Namun, kondisi tersebut harus diimbangi dengan dukungan alat pengolahan lahan yang sesuai.
“Setelah pakai combine, petani sering kesulitan saat mengolah lahan kembali. Maka kami dorong dengan menurunkan alat-alat seperti rotavator dan traktor roda empat, disesuaikan dengan situasi dan kondisi lahannya,” pungkasnya. (awr)
