Vihara Tertua di Cirebon hingga Kuliner Khas, Ini Tantangan Kota Tua Jamblang 

Vihara Dharma Rakhita
BANGUNAN TUA: Vihara Dharma Rakhita merupakan bangunan tua yang memiliki arsitektur khas. Hingga kini, masih terawat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan di Kawasan Pecinan Jamblang. FOTO: KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Pengembangan Kawasan Kota Tua Pecinan Jamblang sebagai destinasi wisata sejarah di Kabupaten Cirebon masih dilakukan secara bertahap.

Keterbatasan pendanaan serta upaya memperluas segmen wisatawan menjadi tantangan utama yang hingga kini dihadapi pengelola kawasan.

Ketua Kelompok Warga Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jamblang, Arif mengatakan, fokus pengembangan saat ini masih diarahkan pada upaya menjaga dan mengenalkan potensi sejarah yang telah ada.

Baca Juga:MA Tegas Tak Ada Bantuan Hukum bagi Hakim PN Depok yang Terjerat OTT KPKBSI Ubah Peta Perbankan Indonesia

Di antaranya Vihara Dharma Rakhita yang dikenal sebagai vihara tertua di Cirebon, deretan bangunan kuno, serta sejumlah lokasi bersejarah yang merekam perjalanan Jamblang sebagai salah satu wilayah permukiman masyarakat keturunan Tionghoa tertua di Cirebon.

“Pengembangannya masih bertahap. Selain soal inklusivitas wisatawan, tantangan utama kami juga pada pendanaan. Selama ini sebagian besar masih mengandalkan swadaya warga serta dukungan CSR dari beberapa perusahaan,” ujar Arif kepada Radar Cirebon, kemarin.

Menurut Arif, kekuatan utama Kota Tua Jamblang terletak pada karakter sejarah dan budaya, khususnya yang berkaitan dengan komunitas Tionghoa.

Sejumlah bangunan lama dengan arsitektur khas hingga kini masih terawat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Selain wisata sejarah, pengelola juga menyediakan fasilitas penunjang, seperti kafe yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk bersantai.

Dari sisi kuliner, wisatawan dapat menikmati beragam makanan khas keturunan Tionghoa seperti Nasi Langgi dan Kue Cikak, di samping Nasi Jamblang yang telah menjadi identitas budaya kawasan tersebut.

Ia menjelaskan, wisatawan yang datang umumnya berkunjung untuk beribadah di kelenteng tua serta menikmati suasana kawasan dengan bangunan-bangunan kuno di sekitarnya.

Baca Juga:Pajak Lunas, Tidur Pulas, Pemkot Cirebon Luncurkan PBB-P2 Tahun 2026PGRI Kota Cirebon Gelar Pameran Tunggal Lukisan Karya Agung

Tak sedikit pula masyarakat yang memanfaatkan kawasan ini sebagai lokasi foto, termasuk untuk kebutuhan prewedding karena banyak sudut yang dinilai estetik.

“Biasanya paling ramai saat momen Tahun Baru Imlek, perayaan hari besar agama Buddha, serta hari libur nasional. Di akhir pekan juga cukup sering dikunjungi, apalagi jika ada festival,” jelasnya.

Meski demikian, Arif mengakui bahwa hingga saat ini wisatawan yang berkunjung masih didominasi oleh etnis Tionghoa.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Pokdarwis dalam upaya menjadikan Kota Tua Jamblang sebagai destinasi wisata sejarah yang lebih inklusif dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

0 Komentar