Ada 108 Lubang Jalan Rusak, Jl Cipto Jadi Lintasan Uji Nyali Bagi Pengendara

Ada 108 Lubang Jalan Cipto Kota Cirebon
SANA-SINI LUBANG: Kondisi Jl Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon, Jumat (13/2/2025). Sepanjang jalur utama dari depan SMAN 2 Cirebon hingga Denpom III Siliwangi, tampak kerusakan dengan ukuran bervariasi. Sebanyak 53 titik dari arah menuju Kesambi dan 55 titik dari arah sebaliknya. Kerusakan itu mengancam keselamatan pengendara, terutama pada malam hari. Foto-Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Keluhan warga pun bermunculan. Rudi Hartono (38), karyawan swasta yang setiap hari melintas di Jalan Cipto, mengaku sudah hafal posisi lubang karena sering hampir terjatuh. “Kalau malam paling bahaya. Lubangnya susah kelihatan. Saya pernah nyaris jatuh karena roda depan masuk lubang,” katanya kepada Radar Cirebon, kemarin.

Hal serupa diungkapkan Siti Komariah (46), warga Kota Cirebon lain. Ia menilai kondisi jalan semakin parah setelah hujan deras beberapa waktu terakhir. “Dulu lubangnya kecil-kecil. Sekarang makin lebar. Setiap hari saya lihat orang ngerem mendadak. Takutnya ada yang benar-benar celaka,” ujarnya.

Kerusakan jalan di jalur utama ini menimbulkan pertanyaan publik: mengapa penanganan belum terlihat cepat, padahal lokasinya berada di salah satu koridor paling strategis kota? Jalan Dr Cipto Mangunkusumo dikenal sebagai jalur vital penghubung aktivitas pendidikan, perdagangan, dan mobilitas warga. Secara citra kota, ruas ini termasuk wajah depan Cirebon.

Baca Juga:Stimulus untuk Diskon Tarif Transportasi dan Mudik GratisLibur Panjang! Awal Ramadan dan Tahun Baru Imlek Berdekatan

Ya, di lapangan, kerusakan menunjukkan kebutuhan penanganan cepat. Selain Jalan Cipto, sejumlah ruas lain seperti Jalan Soetomo, Jalan Dr Wahidin, Jalan Kesambi dan banyak lagi, juga mengalami kerusakan. Faktor cuaca disebut menjadi salah satu penyebab, terutama curah hujan tinggi yang mempercepat pelapukan aspal.

Masalahnya, lubang jalan bukan sekadar soal estetika infrastruktur. Ia berkaitan langsung dengan keselamatan. Pada kecepatan tertentu, lubang sedalam belasan sentimeter dapat menyebabkan ban pecah, kendaraan oleng, bahkan kecelakaan beruntun. Terlebih bila tertutup genangan air yang membuat kedalamannya tak terlihat.

Pengamatan sepanjang jalur menunjukkan sebagian pengendara memilih mengambil sisi jalan paling pinggir untuk menghindari kerusakan. Akibatnya arus lalu lintas menyempit dan berpotensi memicu kemacetan. Di jam sibuk, kendaraan tampak melambat serempak ketika memasuki segmen jalan rusak, menciptakan efek antrean panjang.

Kondisi ini memunculkan ironi. Di satu sisi, kota berupaya mempercantik wajah melalui pembangunan fasilitas publik dan ruang kota. Di sisi lain, akses jalannya justru tampak terabaikan. Warga menilai perbaikan seharusnya diprioritaskan di jalur utama lebih dulu sebelum ruas sekunder.

Secara visual, kerusakan yang berderet sepanjang ruas memberi kesan kontras: pepohonan rindang, trotoar rapi, dan bangunan modern berdiri di kiri kanan jalan, tetapi permukaan aspal di tengahnya terlihat seperti tambalan puzzle yang gagal disusun. Tampilan itu membuat kesan pertama kota terasa janggal bagi siapa pun yang melintas.

0 Komentar