CIREBON-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon masih kekurangan kontainer dan armada mengangkut sampah.
Saat ini, DLH hanya memiliki 72 unit armada untuk melayani 412 desa di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono ST MSi mengungkapkan, saat ini pihaknya baru memiliki 192 kontainer sampah yang tersebar di desa-desa, hotel, hingga kawasan industri. Jumlah itu dinilai jauh dari kebutuhan ideal.
Baca Juga:Dukung Program MBG, Polri Targetkan 61 SPPG Beroperasi di Jabar pada 2026Jadwal Lengkap Uji Coba Inggris Jelang Piala Dunia 2026, Hadapi Selandia Baru dan Kosta Rika
“Di Kabupaten Cirebon ada 412 desa. Idealnya satu desa minimal punya satu kontainer. Artinya, kami butuh sekitar 500 kontainer agar penanganan sampah lebih tertata,” kata Dede kepada Radar Cirebon, Jumat (13/2).
Ditegaskannya, ketersediaan kontainer sangat menentukan kebersihan lingkungan. Jika jumlahnya memadai, sampah yang kerap berserakan di jalan dan ruang publik bisa ditekan secara signifikan.
Di sisi lain, volume sampah yang dihasilkan masyarakat terbilang tinggi. DLH mencatat produksi sampah rumah tangga di Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 1.200 ton per hari. Namun, kemampuan pengangkutan masih tertinggal jauh.
Saat ini, sampah hanya ditangani melalui dua tempat pembuangan akhir (TPA), yakni TPA Kubangdeleg dan TPA Gunung Santri.
“TPA Kubangdeleg hanya mampu mengangkut sekitar 100 ton per hari, sedangkan TPA Gunung Santri sekitar 500 ton per hari,” jelasnya.
Menurutnya, masalah tak berhenti di situ. Jumlah armada pengangkut sampah juga menjadi pekerjaan rumah besar.
Saat ini, DLH hanya memiliki 72 unit armada untuk melayani 412 desa di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
Baca Juga:Banjir Kuningan, Ratusan Rumah di Cibingbin dan Ciwaru Terendam, Sejumlah Bangunan RusakRibuan Orang Kaya Masuk BPJS PBI
“Dengan 72 armada untuk ratusan desa dan dua TPA, tentu tidak mungkin semua wilayah bisa terlayani maksimal,” ungkapnya.
Berdasarkan perhitungan DLH, kata Dede, setidaknya dibutuhkan sekitar 200 unit armada agar pengangkutan sampah bisa menjangkau seluruh kecamatan.
Sayangnya, pengadaan armada dan kontainer baru terkendala keterbatasan anggaran, mengingat biaya yang dibutuhkan cukup besar sementara kemampuan keuangan daerah masih terbatas.
Meski begitu, Dede menegaskan, pihaknya tetap berupaya memaksimalkan penanganan sampah dengan fasilitas yang ada.
Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut ambil bagian menjaga kebersihan lingkungan.
“Penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Peran serta dan kesadaran masyarakat sangat menentukan. Jangan buang sampah sembarangan,” pungkasnya. (sam)
