RADARCIREBON.ID -Jembatan penghubung Desa Munjul dan Desa Sidamulya, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, ambruk setelah diterjang derasnya arus Sungai Cikanci, Kamis (12/2).
Peristiwa ini membuat akses utama antar dua desa terputus dan melumpuhkan mobilitas warga serta aktivitas ekonomi setempat.
Ambruknya jembatan diduga dipicu meningkatnya debit Sungai Cikanci akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Astanajapura (Asjap) dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga:SMA Islam Al Azhar 5 Cirebon Gelar Isra Mikraj dan Tarhib RamadanNU Kota Cirebon soal Penetapkan Awal 1 Ramadan 1447 H
Arus air yang sangat deras menghantam konstruksi jembatan yang telah berdiri hampir 40 tahun hingga akhirnya roboh dan sempat menyumbat sebagian aliran sungai.
Komandan Koramil Astanajapura, Kapten CKE Agung Prayogo mengatakan, kondisi banjir kali ini tergolong tidak biasa karena intensitas hujan yang tinggi menyebabkan arus sungai jauh lebih kuat dari biasanya.
“Jembatan ini sudah hampir 40 tahun. Saat arus sangat deras, struktur tidak mampu bertahan,” ujar Agung Prayogo, Minggu (15/2).
Pasca kejadian, Koramil Astanajapura bersama Pemerintah Desa Munjul dan warga dari kedua desa langsung bergerak cepat melakukan kerja bakti.
Mereka membangun jembatan darurat menggunakan material seadanya, seperti kayu dan bambu, agar akses warga tidak sepenuhnya terisolasi.
“Kami bangun jembatan darurat agar akses tetap terjaga. Pemerintah desa juga sudah berkoordinasi dengan BBWS untuk pembangunan jembatan permanen,” tambahnya.
Sekretaris BPD Desa Munjul, Rokhmat, menyebut jembatan tersebut sebagai urat nadi penghubung kehidupan masyarakat di dua desa.
Baca Juga:Nasi Gandul Menu Andalan Berbuka Puasa FH UGJ Cirebon Menggelar Seminar Transisi KUHP Kolonial ke Nasional
Menurutnya, keberadaan jembatan sangat vital bagi mobilitas dan roda perekonomian warga. “Ini bukan sekadar bangunan, tetapi penghubung ekonomi dan mobilitas warga,” ujarnya.
Sebelum ambruk, lanjut Rokhmat, warga hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyeberang. Kini, mereka harus memutar dengan jarak dua kali lebih jauh sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama.
“Dampaknya, para pedagang kesulitan mengangkut barang, petani terhambat menuju lahan di seberang sungai, dan siswa mengalami kendala akses menuju sekolah,” tuturnya.
Selain itu, kondisi tebing sungai yang terus tergerus arus juga dikhawatirkan memicu longsor susulan jika tidak segera ditangani.
Warga berharap, pemerintah dan instansi terkait segera membangun jembatan permanen yang lebih kokoh sekaligus melakukan penanganan turap tebing sungai agar tidak semakin terkikis.
