Cirebon Berselimut Merah, Imlek dan Kisah Panjang Perjumpaan Budaya

Imlek dan Kisah Panjang Perjumpaan Budaya
PERAYAAN IMLEK: Suasana Minggu siang (15/2/2026), denyut perayaan Tahun Baru Imlek terasa di kawasan Pecinan hingga rumah ibadah di Kota Cirebon. Puncak suasana religius akan terjadi saat Sembahyang Malam Imlek yang digelar Senin (16/2/2026) pukul 18.00 WIB. Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Lampion bergoyang, angin berderai, suasana damai terasa ramai. Detik menuju Imlek kian dekat, denyut tradisi makin kuat. Di Kota Cirebon, jejak budaya Tionghoa kembali menampakkan daya pikatnya. Jalanan berhias, vihara bersiap, umat khidmat menatap harap.

Minggu siang (15/2/2026), denyut perayaan terasa dari kawasan Pecinan hingga rumah ibadah. Di Kawasan Talang, Kota Cirebon, ratusan lampion merah tergantung berlapis di atas jalan. Tali-tali hitam membentang dari bangunan ke bangunan, memegang barisan lentera bulat yang tersusun rapi seperti barisan penjaga langit.

Di bawahnya, kendaraan roda dua melintas perlahan, sementara pedagang kaki lima membuka lapak sederhana. Aspal jalan tampak berlubang di beberapa titik, namun tak mengurangi semarak warna merah yang mendominasi pandangan.

Baca Juga:Polresta Cirebon Ungkap 12 Kasus NarkobaUang Nasabah Bank Cirebon Cair, Tahap Pertama Mencapai Rp89,5 Miliar

Tak jauh dari situ berdiri gapura besar bertuliskan nama kawasan pecinan. Ornamen naga emas bertengger di bagian atasnya, seolah mengawasi lalu lintas yang berlalu-lalang. Beberapa pengendara motor berhenti sejenak, menoleh ke arah dekorasi, sebagian mengangkat ponsel untuk memotret. Atmosfernya terasa seperti panggung pembuka sebelum tirai perayaan benar-benar terbuka.

Sementara itu, di halaman Vihara Dewi Welas Asih yang berada di Jalan Kantor, suasana berbeda namun sama kuatnya. Deretan lilin merah raksasa berdiri tegak di kiri kanan pelataran. Di atasnya, atap sementara dari terpal biru dan rangka bambu melindungi area sembahyang.

Lampion merah menggantung berbaris di bawah langit-langit terpal, masing-masing dihiasi tulisan emas. Aroma dupa tipis melayang di udara, berpadu dengan warna merah emas dari altar utama di bagian dalam yang tampak menyala meski siang hari.

Persiapan di vihara ini memang sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Salah satu ritual penting adalah tradisi bersih rupang atau patung dewa. Kegiatan itu berlangsung Kamis pagi (12/2/2026) dan melibatkan umat serta pengurus. Mereka membersihkan seluruh altar, mengelap patung dengan hati-hati, bahkan mengganti jubah pada beberapa rupang.

Pengurus vihara, Romo Junawi, menegaskan ritual tersebut bukan sekadar kegiatan fisik. Ia menyebutnya sebagai simbol penyucian batin. Baginya, membersihkan rupang berarti juga membersihkan niat dan hati sebelum memasuki tahun baru. Di vihara ini terdapat 19 altar, semuanya dibersihkan tanpa terkecuali. Prosesnya berlangsung tertib, penuh kehati-hatian, nyaris tanpa suara keras. Hanya gesekan kain dan bisikan doa.

0 Komentar