Rangkaian kegiatan Imlek di vihara tersebut tidak berhenti di situ. Agenda sudah tersusun rapi. Diawali Sembahyang Sang Sin pada Selasa 10 Februari pukul 18.00 WIB, umat memanjatkan doa penghormatan kepada dewa dapur yang dipercaya naik ke langit melaporkan perbuatan manusia sepanjang tahun. Ritual ini menjadi simbol evaluasi diri sebelum pergantian tahun.
Berikutnya, Kamis 12 Februari pukul 09.00 WIB dilaksanakan Cuci Rupang. Prosesi ini menjadi momen gotong royong spiritual. Umat bekerja bersama membersihkan altar dan patung, menciptakan suasana kebersamaan yang jarang ditemui dalam aktivitas harian.
Puncak suasana religius akan terjadi saat Sembahyang Malam Imlek, Senin (16/2/2026) hari ini pukul 18.00 WIB. Saat malam tiba, halaman samping vihara biasanya berubah menjadi lautan manusia. Umat berdatangan membawa hio, lilin, dan persembahan buah.
Baca Juga:Polresta Cirebon Ungkap 12 Kasus NarkobaUang Nasabah Bank Cirebon Cair, Tahap Pertama Mencapai Rp89,5 Miliar
Cahaya lampion memantul di wajah-wajah khusyuk, asap dupa naik perlahan ke udara malam. Anak-anak berjalan menggenggam tangan orang tua, sementara lansia duduk tenang menunggu giliran berdoa. Suara percakapan pelan bercampur bunyi lonceng ibadah menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.
Rangkaian berlanjut Jumat 20 Februari pukul 08.00 WIB melalui Sembahyang Ciap Sin, ritual penghormatan kepada para dewa yang dipercaya turun kembali ke bumi. Dua hari setelahnya, Minggu 22 Februari pukul 09.00 WIB digelar Sembahyang Ci Suak, doa khusus memohon keselamatan dan keberkahan keluarga.
Penutup rangkaian adalah Keng Thi Kong pada Selasa 24 Februari pukul 23.59 WIB. Ritual tengah malam ini dikenal sakral karena ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut tradisi Tionghoa. Biasanya suasana sangat hening, hanya cahaya lilin yang berkelip di tengah malam.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon Agus Sukmanjaya menilai rangkaian tradisi tersebut sebagai kekayaan budaya yang memperkuat identitas daerah. Ia menyebut Cirebon sebagai simpul akulturasi berbagai etnis: Tionghoa, Jawa, Sunda, hingga Arab. Tradisi Imlek, menurutnya, bukan hanya milik satu komunitas, melainkan bagian dari mozaik budaya kota.
Tahun ini perayaan Imlek memasuki tahun 2577 Kongzili dengan naungan Shio Kuda Api. Dalam astrologi Tionghoa, shio ini melambangkan energi, kecepatan, semangat, dan keberanian mengambil langkah baru. Banyak warga percaya tahun Kuda menjadi momentum bergerak maju setelah masa stagnasi. Simbol kuda identik dengan kebebasan dan optimisme –dua kata yang terasa selaras dengan suasana Cirebon menjelang perayaan.
