Perayaan Imlek juga identik dengan momen keluarga. Menjelang malam tahun baru, rumah-rumah dibersihkan, meja makan disiapkan, dan hidangan khas tersaji berderet. Tradisi makan malam reuni menjadi saat paling ditunggu.
Anggota keluarga yang merantau pulang, duduk satu meja, berbagi cerita setahun terakhir. Tawa, doa, dan harapan bercampur dalam satu ruang. Bagi banyak warga, justru momen kebersamaan itulah inti Imlek yang sesungguhnya.
Secara ekonomi, momentum ini turut menggerakkan aktivitas perdagangan lokal. Pedagang bunga, buah, dan makanan khas merasakan kenaikan permintaan. Kue keranjang, jeruk mandarin, dan penganan manis mulai diburu pembeli sebagai simbol keberuntungan. Para pelaku usaha kecil menyebut periode ini sebagai salah satu puncak penjualan tahunan selain Lebaran.
Baca Juga:Polresta Cirebon Ungkap 12 Kasus NarkobaUang Nasabah Bank Cirebon Cair, Tahap Pertama Mencapai Rp89,5 Miliar
Suasana vihara di Kota Cirebon siang itu memperlihatkan keseimbangan antara kesibukan persiapan dan ketenangan batin. Beberapa umat menyalakan dupa, menunduk khidmat di depan altar. Cahaya merah dari lilin memantul di lantai, menciptakan nuansa hangat. Tidak ada suara gaduh. Hanya langkah kaki pelan dan bisikan doa.
Di luar kompleks vihara, jalanan tetap berjalan normal. Sepeda motor melintas, angin menggoyang daun pohon palem di tepi jalan. Spanduk ucapan selamat Imlek terpasang di sisi trotoar. Langit mendung tipis menaungi kota, seolah memberi latar dramatis pada suasana menjelang hari besar. (ade)
