Lampion Kiriman Umat; Bandung hingga Palembang

Lampion Kiriman Umat; Bandung hingga Palembang
MERAWAT TRADISI: Persiapan perayaan Tahun Baru Imlek di Klenteng Hok Keng Tong atau Vihara Dharma Sukha di Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Minggu (15/2/2026). Foto: Khoirul Anwarudin/Radar Cirebon
0 Komentar

JEJAK RATUSAN TAHUN

Suasana di kawasan Kota Tua Jamblang, Kabupaten Cirebon, juga terasa hidup. Di tengah deretan bangunan tua, Klenteng Hok Kek Ceng Sin atau Vihara Dharma Rakhita berdiri tenang, menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Tionghoa yang pernah berkembang di wilayah tersebut.

Ketua Pokdarwis Desa Jamblang, Arif, menuturkan sejarah klenteng tidak diketahui secara pasti tahun berdirinya. Namun jejaknya tercatat dalam babad berhuruf Tionghoa yang terpampang di kedua dinding bangunan.

“Dalam tulisan itu disebutkan klenteng sudah ada sejak turun-temurun. Tidak ada catatan siapa pendirinya, tapi masyarakat Jamblang memeliharanya bersama sejak dahulu,” ujar Arif.

Baca Juga:Polresta Cirebon Ungkap 12 Kasus NarkobaUang Nasabah Bank Cirebon Cair, Tahap Pertama Mencapai Rp89,5 Miliar

Berdasarkan catatan tersebut, kata Arif, sejak 1785 warga mulai mengumpulkan dana urunan untuk memperbaiki bangunan. Perawatan dan pemugaran dilakukan bertahap selama sekitar 115 tahun hingga 1900.

Dari gotong royong itu, bangunan pelengkap seperti blandongan di sisi kiri dan kanan gerbang didirikan, tanah pemakaman Tionghoa dibeli, hingga fasilitas lingkungan seperti selokan dan sarana umum dibangun oleh pengurus klenteng.

Lebih dari sekadar tempat ibadah, klenteng berfungsi sebagai pusat kehidupan sosial masyarakat Tionghoa Jamblang. Dalam berbagai peristiwa, warga berkumpul di sana mulai dari masa kerusuhan awal abad ke-19, paceklik panjang pada pertengahan 1800-an, hingga wabah kolera.

Dalam babad disebutkan arak-arakan Toapekong dilakukan sebagai doa keselamatan agar kampung terhindar dari bencana. Catatan itu juga menggambarkan bencana alam yang pernah menimpa Jamblang, seperti gempa bumi besar dan banjir yang merendam kampung hingga ke dalam klenteng.

Setelah setiap kejadian, masyarakat kembali bergotong royong memperbaiki bangunan. Renovasi besar dilakukan pada 1900 dengan meninggikan pondasi dan mempertebal tembok, sementara kayu bubungan atap disebut tidak pernah diganti sejak awal berdiri dan menjadi bagian dari cerita turun-temurun warga. “Dari babad terlihat klenteng dulu menjadi pusat aktivitas masyarakat, bukan hanya untuk sembahyang. Ada musyawarah, perkumpulan, sampai kegiatan sosial,” kata Arif.

Seiring waktu, jumlah umat Tridharma yang meliputi Agama Buddha, Tao dan Konghucu di Jamblang menurun. Banyak warga keturunan Tionghoa berpindah agama maupun merantau ke luar daerah sehingga aktivitas ibadah rutin kini tidak lagi ramai.

0 Komentar