Meski begitu, klenteng tetap memiliki peran penting sebagai pusat kebudayaan dan tempat berkumpul. Warga keturunan Tionghoa masih datang ketika ada acara keluarga maupun kegiatan bersama. “Kalau hari biasa memang sepi, tapi saat ada kegiatan orang-orang tetap berkumpul di sini untuk silaturahmi,” ujarnya.
Menjelang Imlek, suasana biasanya kembali semarak. Warga yang tinggal di luar daerah pulang atau ikut berpartisipasi melalui sumbangan untuk memeriahkan perayaan di kawasan kota tua Jamblang.
Bagi masyarakat setempat, jelas Arif, Klenteng Hok Kek Ceng Sin atau Vihara Dharma Rakhita bukan sekadar bangunan ibadah tua, melainkan penanda sejarah panjang keberadaan komunitas Tionghoa di Jamblang yang masih bertahan hingga kini. (awr)
