Peresmian SPPG Cikalahang 3 Kecamatan Dukupuntang Serap Puluhan Pekerja

Peresmian SPPG Cikalahang 3
MULAI BEROPERASI: SPPG Cikalahang 3 di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, resmi dibuka pada Minggu (15/2/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikalahang 3 di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, resmi dibuka pada Minggu (15/2/2026). Dapur sehat ini disiapkan sebagai pusat produksi makanan bergizi bagi masyarakat di wilayah sekitar. Juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja dengan total 47 karyawan yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar.

KEPALA SPPG Cikalahang 3, Khairin Mauladi, menyatakan bahwa seluruh persiapan operasional telah rampung dan siap melayani penerima manfaat. “Dapur sudah lengkap dan siap digunakan. SOP (standar operasional prosedur) juga sudah berjalan lancar. Distribusi makanan akan mulai besok (hari ini, red),” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama bulan Ramadan menu yang diberikan berupa makanan kering agar lebih praktis, tahan simpan, dan mudah dibagikan tanpa mengurangi nilai gizi. Untuk saat ini, SPPG Cikalahang 3 melayani sekitar 1.350 penerima manfaat yang berasal dari Desa Cikalahang dan Desa Mandala. Sasarannya balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Baca Juga:Polresta Cirebon Ungkap 12 Kasus NarkobaUang Nasabah Bank Cirebon Cair, Tahap Pertama Mencapai Rp89,5 Miliar

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dapur dirancang dengan alur kerja terpisah antara bahan mentah dan makanan siap saji. Area penyimpanan tertutup, peralatan memasak tertata rapi, dan ruang pengolahan dijaga kebersihannya untuk memenuhi standar keamanan pangan.

Sehingga seluruh proses pengolahan itu, mengikuti prosedur operasional guna menjaga kualitas gizi hingga tahap distribusi. SPPG ini berdiri di lahan 373 meter persegi dengan luas bangunan 300 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Lantai atas difungsikan sebagai kantor operasional.

Struktur tenaga kerja sudah terbentuk lengkap. Mulai dari juru masak, bagian pemorsian, distribusi, satu ahli gizi, hingga satu akuntan. “Karyawan di sini hampir semuanya warga sekitar, dan kebanyakan ibu-ibu,” ujarnya.

Keberadaan puluhan pekerja lokal itu memberi dampak langsung pada ekonomi keluarga. Banyak di antaranya ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Kini mereka memiliki pekerjaan rutin dengan sistem kerja terstruktur dan jadwal jelas.

Aktivitas dapur produksi berjalan sejak pagi, menyiapkan menu sesuai standar gizi sebelum didistribusikan ke penerima manfaat. Perputaran ekonomi kecil mulai terasa di lingkungan sekitar, mulai dari kebutuhan bahan baku hingga aktivitas distribusi harian.

0 Komentar