“Otomatis produksi melon akan meningkat. Kami berharap kolaborasi ini dapat memaksimalkan potensi yang ada. Ini peluang besar bagi petani muda untuk mengembangkan budidaya melon di Indramayu,” jelasnya.
Terpisah, Ketua APEMI, Riyan Rudiyana mengatakan, perkembangan pertanian melon, khususnya sistem hidroponik, saat ini menunjukkan tren positif. Melon yang dibudidayakan merupakan jenis premium dengan harga tinggi di pasaran, berbeda dengan melon lokal yang cenderung fluktuatif.
“Saat ini permintaan cukup tinggi, sekitar 5 sampai 6 kuintal per minggu untuk pasar Bandung dan Jakarta,” ujarnya.
Baca Juga:Ada Klinik Pratama Karang Medika Ciawigebang, Warga Jadi Lebih Dekat untuk BerobatDipecat Manchester United, Ruben Amorim Berpeluang Gantikan Jose Mourinho di Benfica
Permintaan juga datang dari sejumlah supermarket seperti Superindo dan Alfamidi yang meminta pasokan melon premium dari anggota APEMI. Bahkan, kebutuhan untuk wilayah luar Kabupaten Indramayu mencapai 5 hingga 7 ton per minggu.
Di Kabupaten Indramayu sendiri, APEMI memiliki enam klaster, masing-masing terdiri atas 10 anggota. Artinya, terdapat sekitar 60 petani melon yang menggunakan sistem greenhouse dengan berbagai teknik budidaya.
Riyan berharap melalui kerja sama dengan Kemendes, TIKA, dan dukungan Pemkab Indramayu, potensi budidaya melon dapat terus berkembang, baik dari sisi jumlah greenhouse maupun volume produksi yang disesuaikan dengan permintaan pasar.
“Harapannya, anggota semakin banyak dan produksi terus meningkat. Kualitas melon premium yang sudah dirasakan masyarakat menjadi jaminan bahwa produk ini diminati pasar, apalagi masyarakat kita memang menyukai buah yang manis,” pungkasnya. (oni)
