Haji 2026: Indonesia Perketat Skrining Kesehatan dan Terapkan Murur–Tanazul untuk Lindungi Jamaah Rentan

Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf
CEGAH RISIKO: Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menghadiri forum Saudi–Indonesian Umrah Co.Exchange di Makkah, Senin (16/2).Foto: Ist 
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M diarahkan pada satu pesan utama. Jamaah harus bisa beribadah dengan aman, terutama mereka yang lansia dan berisiko tinggi (risti). Pemerintah Indonesia menyiapkan rangkaian perlindungan berlapis—mulai dari penguatan pemeriksaan kesehatan di tanah air hingga pengaturan pergerakan jamaah saat fase paling padat di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan bahwa aspek keselamatan ditempatkan sebagai prioritas yang tidak bisa ditawar. Pernyataan itu ia sampaikan dalam forum Saudi–Indonesian Umrah Co.Exchange di Makkah, Senin (16/2).

Menurutnya, konsep istithaah kesehatan harus dipahami sebagai perangkat untuk mencegah risiko, bukan sekadar formalitas administrasi. Pemerintah ingin memastikan calon jamaah benar-benar siap secara fisik, sementara penyakit penyerta atau komorbid dapat terpantau dan terkendali sebelum keberangkatan.

Baca Juga:DLH Cirebon Hanya Andalkan Beko Tua, Usulan Diajukan Sejak 2016, Belum DisetujuiSidak Pasar di Perbatasan Cirebon, Bupati Imron Siapkan Opsi Operasi Pasar Murah Ramadhan

Dalam tahap pra-keberangkatan, Kementerian Haji dan Umrah memperkuat pendekatan preventif. Langkah ini mencakup pemantauan komorbid yang lebih ketat, pembinaan kebugaran, serta edukasi agar calon jamaah memahami beban fisik ibadah haji. Dengan cara ini, pemerintah menargetkan pengurangan jumlah jamaah risti yang berangkat tanpa kesiapan memadai, sekaligus mendorong kepatuhan terhadap anjuran medis dan protokol kesehatan selama perjalanan.

Memasuki puncak ibadah di Tanah Suci, Indonesia menyiapkan dua skema mobilitas untuk mengurangi beban fisik dan paparan kepadatan massa bagi kelompok rentan. Skema pertama adalah Murur, yaitu pengaturan agar jamaah lansia dan risti melewati Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun dari kendaraan. Mekanisme ini dinilai dapat mengurangi kelelahan ekstrem, meminimalkan risiko terpisah dari rombongan, serta menekan kemungkinan gangguan kesehatan akibat kepadatan.

Skema kedua adalah Tanazul, yakni opsi bagi sebagian jamaah untuk kembali lebih awal ke hotel setelah melontar jumrah. Tujuannya mengurai kepadatan di tenda Mina—yang kerap menjadi titik paling melelahkan—sekaligus memberi ruang pemulihan bagi jamaah yang kondisinya membutuhkan istirahat lebih cepat. Pemerintah menekankan bahwa penyesuaian teknis ini tetap menjaga kesahan ibadah, namun dibuat lebih aman dan manusiawi bagi jamaah rentan.

0 Komentar