Nurul menuturkan, pada Jumat (13/2/2026) pekan sebelumnya memang sempat dilakukan pencairan dengan jumlah terbatas. Sekitar 160 antrean berhasil dilayani hingga pukul 22.00 malam. Operasional bahkan diperpanjang sampai tengah malam untuk menyelesaikan proses. Namun kondisi itu tidak bisa dilakukan terus-menerus karena ada batasan jam operasional dan jumlah petugas.
Ia menekankan bank bukan tidak ingin membantu, melainkan harus menyesuaikan aturan dan kapasitas. Jumlah nasabah BPR yang mencapai sekitar 18.000 orang membuat penjadwalan menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa jadwal, seluruh nasabah berpotensi datang bersamaan. “Bayangkan kalau semua antre ke sini sekaligus,” katanya.
Meski demikian, bank memastikan dana nasabah tetap aman selama memiliki bukti kepemilikan. Masa klaim disebut masih panjang hingga 8 Februari 2031. Pernyataan itu disampaikan berulang kepada nasabah yang datang agar tidak terburu-buru. Di tengah penjelasan tersebut, keresahan nasabah tetap terasa. Banyak di antara mereka mempertanyakan kepastian waktu pencairan, bukan sekadar jaminan keamanan dana.
Baca Juga:Tahun Baru Imlek Berlangsung Aman dan DamaiKerusakan Jalan di Kota Cirebon Cuma Ditambal, Walikota Sebut Juni Baru Aspal Permanen
Rani, salah satu nasabah Bank Cirebon, mengaku datang karena mendapat informasi dari pihak sekolah bahwa pencairan bisa dilakukan Rabu hingga Jumat pekan ini. Ia berharap bisa menyelesaikan proses hari itu agar tidak perlu bolak-balik. Namun setelah tiba, ia justru mengetahui belum ada layanan.
Ia menilai masalah utama bukan sekadar antrean panjang, melainkan informasi yang berubah-ubah. Nasabah Bank Cirebon, kata dia, merasa tidak mendapatkan penjelasan utuh sehingga harus datang sendiri untuk memastikan. “Yang disesalkan informasinya tidak pasti,” tukasnya.
Keluhan serupa disampaikan Donita. Ia menilai sistem pelayanan belum siap menghadapi jumlah nasabah besar. Menurutnya, situasi padat sebenarnya sudah terjadi sebelumnya sehingga seharusnya ada perbaikan mekanisme.
Ia menggambarkan kebingungan yang dialami nasabah sejak pagi: ada yang mengatakan pembagian tiket antrean, lalu berubah menjadi tidak ada pelayanan, kemudian disebut masih menunggu rapat. Bagi nasabah, perubahan itu terasa seperti digantung tanpa kepastian.
Donita juga mempertanyakan transparansi terkait dana simpanan. Ia mengaku sudah beberapa kali mencoba meminta kejelasan langsung kepada petugas maupun pihak terkait, namun jawaban yang diterima belum memuaskan. “Uangnya ada nggak sih?” katanya, menegaskan keraguannya.
