RADARCIREBON.ID -Persoalan sampah di Kabupaten Cirebon tak hanya soal volume yang terus meningkat, tetapi juga menyangkut minimnya dukungan alat berat yang memadai.
Kondisi itu disesalkan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon Anton Maulana ST MM.
Anton mengaku terkejut saat mengetahui sebagian besar alat berat milik DLH sudah berusia tua dan kerap mengalami kerusakan.
Baca Juga:Arkaan Sabet Medali Emas Kejuaraan Taekwondo Tingkat Provinsi JabarTempat Hiburan Malam Wajib Tutup Selama Ramadan, Pemkab Cirebon Siapkan Sanksi
Fakta itu ia peroleh setelah mendengar penjelasan Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Fitroh, terkait keterbatasan beko dalam penanganan sampah.
“Ini menyangkut pelayanan dasar masyarakat dan kelestarian lingkungan. Kami di Komisi III akan mengawal pengajuan bantuan alat berat ini sampai terealisasi,” tegas Anton kepada Radar Cirebon, Kamis (19/2/2026).
Anton mengungkapkan, selama lebih dari sembilan atau hampir sepuluh tahun terakhir DLH rutin mengajukan bantuan pengadaan beko baru, baik ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun pemerintah pusat. Namun, sejak 2016 hingga 2025, tak satu pun pengajuan tersebut mendapat persetujuan.
Padahal, kebutuhan alat berat sangat mendesak. Dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) milik Pemkab Cirebon terus menerima timbunan sampah dalam jumlah besar setiap harinya.
Tanpa dukungan alat yang prima, proses penataan dan pengolahan sampah menjadi tidak optimal.
Hal senada disampaikan Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Lukman Hakim. Ia menegaskan komitmen Komisi III untuk mengawal pengajuan pengadaan beko hingga DLH Kabupaten Cirebon memiliki alat berat baru pada tahun depan. “Insya Allah tahun depan kita akan kawal dari sekarang,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Fitroh Suharyono SSos menjelaskan, saat ini DLH hanya mengandalkan empat unit alat berat dengan kondisi rata-rata bekas pakai. Rinciannya, satu unit PC 130, dua unit PC 200, serta dua unit PC 45.
Baca Juga:Pemkab Cirebon Diminta Perkuat Layanan Ramah Difabel, Ini Komitmen GregedEdukasi Tata Kelola Sampah di SDN Larangan 1 Kota Cirebon
Satu PC 45 disiagakan di TPA Kubangdeleg dan satu lainnya beroperasi keliling desa. Adapun PC 130 dan PC 200 difokuskan untuk operasional di TPA Gunung Santri.
Menurutnya, usia alat yang sudah uzur membuat biaya perawatan membengkak. Jika dalam kondisi baru biaya perawatan per tahun bisa di bawah Rp50 juta, maka pada alat lama angka tersebut jauh lebih besar karena frekuensi kerusakan yang tinggi.
