RADARCIREBON.ID- Penataan kawasan Kampung Arab Panjunan sudah dirancang beberapa tahun lalu. Sampai saat ini belum terwujud secara keseluruhan. Masih setengah jadi. Pemkot Cirebon menyebut progres masih bertahap. Tapi, sudah mulai memantik aktivitas ekonomi, budaya, dan wisata.
Gapura bertuliskan Selamat Datang di Kampung Arab Panjunan Kota Cirebon berdiri di tepi Jalan Karanggetas. Tulisan emasnya mencolok. Bingkai besi hitam mengapit papan penanda kawasan. Coretan vandalisme masih terlihat di bagian bawah. Sepeda motor lalu lalang di depannya. Arus kendaraan padat. Kawasan tampak hidup namun belum sepenuhnya tertata.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menegaskan penataan kawasan Panjunan terus berlangsung. Progres dilakukan bertahap. Fokus awal pada titik pemicu aktivitas. “Kita terus berprogres,” ujarnya kepada Radar Cirebon, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga:Satu Tahun Edo-Farida: Nasib BUMD Jadi SorotanBuruh PT Long Rich Tolak Pajak 10% Fasilitas Makan, Kepala Bapenda: Itu Kewajiban Vendor
Menurut Agus Sukmanjaya, geliat ekonomi sudah terlihat. Di Jalan Panjunan muncul pusat oleh-oleh. Produk yang dijual khas Timur Tengah. Kurma. Busana muslim. Perlengkapan haji dan umrah. Aktivitas perdagangan itu meluas. Tidak hanya di jalan utama. Kini merambah ke permukiman warga. Terutama di RW 8 Panjunan. Sektor kuliner mulai tumbuh.
Menu tradisional ikut diangkat. Saat Ramadan, warga rutin membuat bubur harisah. Dihidangkan di Masjid Asy Syafii Bayasut. Hidangan khas komunitas Arab. Teksturnya kental. Warnanya kecokelatan. Disajikan hangat menjelang berbuka. Aromanya rempah. Tradisi itu menarik warga luar kawasan datang.
Penataan fisik juga mulai terlihat. Jalur pedestrian sudah dipasang di beberapa titik. Ornamen kawasan dipasang. Pohon penghijauan ditanam di sisi jalan. Lampu hias berdiri berjajar di trotoar. Agus menjelaskan, konsep besar penataan tidak hanya untuk satu wilayah.
Kawasan ini akan diintegrasikan dengan zona sejarah lain. Yakni kawasan Pecinan di Kanoman dan kawasan kota tua di belakang gedung British American Tobacco (BAT) di Jalan Pasuketan. Semuanya akan menjadi jaringan wisata sejarah terpadu. “Sekarang lebih kita memantik di titik-titik itu dulu,” katanya.
Kata Agus, penataan kawasan tak instan. Pemerintah menargetkan proses berjalan satu sampai dua tahun tahap awal. Setelah itu baru masuk penguatan aktivitas. Terutama budaya dan tradisi lokal.
