Respons warga disebut positif. Sejak awal masyarakat dilibatkan. Mereka ikut memberi masukan. Ikut mendukung. Penataan kawasan bukan hanya program pemerintah. Tetapi juga keinginan warga setempat. “Dari awal mereka menjadi bagian pembangunan ini,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah mengakui tantangan masih ada. Terutama soal formulasi kegiatan rutin. Aktivitas budaya tidak bisa hanya sekali digelar. Harus berkelanjutan. Harus konsisten. Harus memiliki sumber daya manusia penggerak. Pengalaman daerah lain menjadi acuan. Banyak kawasan wisata baru berkembang setelah belasan tahun.
Saat ini pemerintah memulai dari infrastruktur dasar. Setelah itu baru aktivitas. Rencananya akan ada agenda budaya jalanan. Jalan umum bisa ditutup sementara. Digunakan untuk bazar. Pentas seni. Atraksi tradisi. Pola itu dirancang khusus untuk momen tertentu. Terutama Ramadan.
Baca Juga:Satu Tahun Edo-Farida: Nasib BUMD Jadi SorotanBuruh PT Long Rich Tolak Pajak 10% Fasilitas Makan, Kepala Bapenda: Itu Kewajiban Vendor
Selain itu ada agenda tahunan. Salah satunya tradisi Ngunjung Pangeran Panjunan. Kegiatan budaya itu melibatkan warga lokal. Biasanya diikuti arak-arakan. Doa bersama. Kegiatan sosial. Momentum tersebut dinilai potensial menjadi daya tarik wisata.
Kawasan ini juga memiliki magnet religi. Di tengah lingkungan berdiri Masjid Merah Panjunan. Bangunan bata merah itu tampak rendah memanjang. Atap sirapnya berlapis. Di belakang masjid, pohon palem berjajar.
Menurut Agus, aktivitas ibadah di masjid tersebut cukup tinggi. Terutama saat Ramadan. Jamaah datang dari berbagai daerah. Kondisi itu memperkuat posisi kawasan sebagai destinasi religi.
Gapura kawasan menjadi penanda awal identitas wilayah. Ornamen dekoratif dipasang di bagian atasnya. Motif geometris bernuansa Timur Tengah. Namun di bawahnya masih terlihat coretan cat semprot. Hal itu menjadi catatan penataan lanjutan. Pemerintah berencana menambah elemen estetika sekaligus pengawasan.
Secara administratif, kawasan ini berada di wilayah Kota Cirebon. Lokasinya strategis. Dekat jalur perdagangan. Dekat pusat kota. Potensi kunjungan dinilai besar. Karena akses mudah dijangkau kendaraan.
Agus menegaskan pemetaan kawasan masih dilakukan. Pemerintah mengidentifikasi titik prioritas. Mana yang ditata dulu. Mana yang menyusul. Pendekatannya bertahap. Tidak sekaligus. Tujuannya agar pembangunan terukur.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan kawasan wisata berbasis budaya harus mempertahankan identitas lokal. Karena itu unsur tradisi warga tetap menjadi inti. Bukan sekadar tampilan fisik. “Ke depan akan ada aktivitas budaya, kuliner, atau tradisi warga lokalnya,” ujarnya.
