Di dalam bangunan terdapat 17 tiang penyangga. Jumlahnya tidak kebetulan. Angka itu melambangkan jumlah rakaat salat wajib sehari semalam. Makna simbolik menjadi bagian dari konsep arsitektur. Tidak sekadar struktur teknis.
Akulturasi budaya terlihat jelas di setiap sudut. Gapura bergaya lokal. Dinding bata bergaya Nusantara. Ornamen keramik bercorak Tiongkok. Semua berpadu. Tidak saling meniadakan.
Keramik hias itu tertanam langsung di bata. Dipasang sejak awal pembangunan. Bukan tambahan belakangan. Motifnya serupa dengan keramik di keraton dan kompleks makam wali di Cirebon. Warisan lintas budaya itu tetap utuh.
Baca Juga:Satu Tahun Edo-Farida: Nasib BUMD Jadi SorotanBuruh PT Long Rich Tolak Pajak 10% Fasilitas Makan, Kepala Bapenda: Itu Kewajiban Vendor
Kawasan sekitar dikenal sebagai Kampung Arab Panjunan. Wilayahnya meliputi tiga RW. Mayoritas penduduk keturunan Arab. Namun komposisi warga tetap beragam. Ada warga Tionghoa. Ada warga pribumi. Semua hidup berdampingan. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat sosial. Perbedaan hanya terlihat dari jumlah populasi.
Ramadan menjadi momentum paling hidup di kawasan tersebut. Aktivitas ibadah meningkat. Interaksi sosial juga meningkat. Warga lebih sering berkumpul. Masjid menjadi pusat kegiatan. Tidak hanya salat. Tadarus. Pengajian. Buka bersama. Semua berlangsung rutin. “Tradisi buka bersama digelar hampir setiap hari,” tutur Isnain.
Sekitar 100 meter dari Masjid Merah, ada Masjid Asafi’i. Di masjid itu ada sajian khas. Bubur harisah. Menu tradisional komunitas Arab. Makanan itu hanya muncul saat Ramadan. Tidak dijual di hari biasa. Warga menunggu tradisi itu setiap tahun.
Menurut Isnain, tradisi Ramadan di Panjunan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan wilayah lain. Namun tingkat keramaiannya berbeda. Lebih padat. Lebih hidup. Lebih terasa suasananya. Faktor sejarah dan identitas kawasan ikut memengaruhi.
Masjid Merah sendiri telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah daerah. Status itu diberikan karena nilai sejarahnya tinggi. Usianya lebih dari lima abad. Perannya besar dalam penyebaran Islam di Cirebon. Struktur aslinya masih terjaga. Ornamen lama tetap utuh. Keaslian menjadi alasan utama penetapan.
Meski demikian, warga menilai penataan kawasan wisata belum maksimal. Beberapa fasilitas rusak. Lampu taman tidak menyala. Lampu gapura padam. Pohon palem banyak mengering. Kondisi itu sudah berlangsung lama. “Dari awal katanya ada perawatan. Tapi tidak ada,” kata Isnain.
