Masjid Merah: Dari Musala Kecil ke Ikon Cagar Budaya

Masjid Merah: Dari Musala Kecil ke Ikon Cagar Budaya
CAGAR BUDAYA: Aktivitas ibadah di Masjid Merah, kemarin (20/2/2026). Dibangun pada 1480 M, awalnya hanya musala kecil untuk tempat ibadah komunitas Arab yang datang ke Cirebon untuk dakwah dan dagang. Seiring waktu, berkembang dan diperluas hingga menjadi masjid. Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Ia menyebut dulu sekitar 80 pohon palem ditanam di kawasan tersebut. Sekarang jumlahnya berkurang. Banyak mati. Tidak diganti. Jalan lingkungan juga masih rusak di sejumlah titik. Padahal kawasan itu memiliki nilai sejarah tinggi. Ikon wisata religi juga ada di sana.

Warga berharap perhatian pemerintah meningkat. Terutama dalam perawatan fasilitas. Termasuk situs bersejarah. Masjid tua. Gapura. Dan elemen kawasan lain. Mereka menilai potensi wisata religi di Panjunan besar. Namun belum dikelola maksimal.

Di tengah kondisi itu, aktivitas Ramadan tetap berjalan semarak. Jamaah terus berdatangan. Anak-anak ikut meramaikan halaman masjid. Orang tua berbincang setelah salat. Pedagang kecil muncul di sudut jalan menjelang waktu berbuka. Suasana berubah lebih hidup dibanding hari biasa.

Baca Juga:Satu Tahun Edo-Farida: Nasib BUMD Jadi SorotanBuruh PT Long Rich Tolak Pajak 10% Fasilitas Makan, Kepala Bapenda: Itu Kewajiban Vendor

Masjid Merah tetap menjadi pusat denyut kawasan. Bangunan abad ke-15 itu tidak hanya menyimpan sejarah. Ia juga tetap menjalankan fungsi utamanya. Tempat ibadah. Tempat berkumpul. Tempat tradisi berlangsung.

Setiap Ramadan, peran itu terasa semakin kuat. Jamaah memenuhi ruang dalam. Suara doa bergema pelan. Langkah kaki terdengar di lantai karpet. Waktu seakan bergerak pelan di dalam bangunan tua itu. Di luar, kehidupan kota berjalan seperti biasa. Di dalam, sejarah dan ibadah menyatu dalam satu ruang yang sama. (ade)

0 Komentar