Setelah sekitar 3-4 jam dimasak, Bubur Harisah pun siap dibagikan. Biasanya bubur itu dibagikan kepada tetangga, tukang becak, tukang ojek, atau orang orang yang kebetulan singgah ke Masjid As Syafii. Tidak jarang, beberapa orang datang jauh-jauh demi menikmati Bubur Harisah. “Ada yang jauh-jauh datang dari Indramayu, katanya cuma buat ngerasain rasanya Bubur Harisah, sambil ngabuburit nunggu buka,” ujarnya.
Namun demikian, ada yang berbeda penyajiannya saat zaman dulu dan saat ini. Jika dahulu bubur disajikan di atas nampan besar dan dinikmati bersama-sama di masjid, kini pembagian dilakukan menggunakan kotak styrofoam. Perubahan itu dimulai sejak pandemi Covid-19, ketika pemerintah menganjurkan social distancing dan melarang kegiatan yang menimbulkan kerumunan. “Sejak pandemi kami kemas per porsi supaya lebih praktis dan tidak berkerumun. Sampai sekarang masih seperti itu,” jelas Abdullah.
Meski demikian, suasana kekeluargaan tetap terasa. Sejumlah warga masih datang langsung ke rumah dengan membawa piring atau mangkok sendiri untuk mengambil Harisa. Sebagian lainnya memilih menerima dalam kemasan untuk dibawa pulang. (*)
