RADARCIREBON.ID – Memasuki malam-malam awal Ramadan, halaman Masjid Agung Sang Cipta Rasa dipenuhi jemaah. Cahaya lampu temaram memantul di dinding bata tua, sementara aroma karpet dan kayu lawas bercampur wangi minyak wangi para jemaah. Suasana terasa hening, namun tetap hidup.
Masjid bersejarah yang berada di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon ini setiap Ramadan berubah menjadi pusat kegiatan ibadah malam. Salat tarawih, tadarus Alquran, hingga iktikaf berlangsung hampir tanpa jeda. Tradisi lokal turut menghidupkan suasana, salah satunya penabuhan beduk pada pukul 23.00 WIB sebagai penanda dimulainya rangkaian ibadah malam.
Bangunan tersebut bukan masjid biasa. Masjid ini berdiri sejak 1480 Masehi dan didirikan oleh Sunan Gunung Jati, tokoh sentral penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Dari tempat inilah dakwah Islam berkembang ke wilayah barat Pulau Jawa. Masjid menjadi pusat pendidikan agama, musyawarah masyarakat, hingga strategi sosial penyebaran Islam.
Baca Juga:Festival Ramadan untuk Semua Warga CirebonBPBD Minta Masyarakat Cirebon Tetap Waspada, Cuaca Ekstrem
“Masjid ini didirikan Sunan Gunung Jati pada 1480 Masehi dan menjadi pusat penyebaran syiar Islam di wilayah barat Pulau Jawa,” ujar Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PR Goemelar Soeryadiningrat.
Secara arsitektur, masjid dirancang oleh Sunan Kalijaga. Bentuknya menyerupai pendopo Jawa dengan atap tumpang khas masjid kuno Nusantara. Struktur kayu penyangga masih dipertahankan tanpa kubah besar seperti masjid modern. Kesederhanaan tersebut justru menjadi daya tarik utama, terutama saat Ramadan ketika jemaah merasakan atmosfer spiritual yang berbeda dibandingkan masjid kontemporer.
Nama “Sang Cipta Rasa” memiliki filosofi mendalam. “Sang” melambangkan keagungan Ilahi, “Cipta” bermakna dibangun atau diciptakan, sedangkan “Rasa” berarti dihayati. Makna tersebut menegaskan fungsi masjid bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang batin yang menghidupkan kesadaran spiritual umat.
Detail bangunan juga memperlihatkan jejak akulturasi budaya. Unsur Majapahit tampak pada konstruksi bata merah dan struktur atap. Ornamen tertentu menunjukkan pengaruh Tiongkok, sementara teknik penyusunan beberapa bagian bangunan diyakini terinspirasi metode konstruksi Eropa awal. Perpaduan tersebut menjadi bukti bahwa sejak abad ke-15 Cirebon telah berkembang sebagai pelabuhan kosmopolitan tempat berbagai budaya bertemu.
