RADARCIREBON.ID – Setelah sepekan libur cuti Imlek dan awal puasa, madrasah di Kabupaten Cirebon mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) perdana bulan Ramadan, Senin (23/2).
Selama bulan suci Ramadan, kegiatan belajar tidak difokuskan pada akademik, melainkan diarahkan pada penguatan spiritual dan karakter peserta didik.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, H Jajang Badruzzaman mengatakan, pola pembelajaran tersebut mengacu pada Petunjuk Teknis (Juknis) Pembelajaran Ramadan yang diterbitkan Kementerian Agama.
Baca Juga:Jalan Rusak di Kompleks Pemkab Cirebon Dibiarkan, Ancam Keselamatan PengendaraLebaran 1447 H Berpotensi Kembali Tidak Serempak
“Pembelajaran Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal, tetapi diarahkan untuk menumbuhkan keimanan, kedisiplinan, akhlak, serta kepedulian sosial siswa,” ujar Jajang.
Dijelaskannya, dalam juknis tersebut kegiatan dibagi dalam tiga tahap. Tahap awal berupa Tarhib Ramadan dengan penguatan relasi keluarga.
Tahap kedua merupakan pembelajaran inti di madrasah melalui tadarus dan tahsin Alquran, pemahaman ayat, praktik ibadah, serta refleksi diri.
Tahap ketiga, dilaksanakan menjelang Idul Fitri melalui implementasi nilai sosial seperti silaturahmi dan kegiatan kemasyarakatan.
Lebih lanjut, dijelaskan Jajang, di Kabupaten Cirebon setiap madrasah wajib melaksanakan salah satu model pembelajaran Ramadan, namun bentuknya dapat menyesuaikan kondisi sekolah.
“Pelaksanaannya bisa model mukim seperti pesantren, bisa semi full day, full day, atau pembelajaran terintegrasi di sekolah. Tidak harus sama, yang penting tujuan pembentukan karakter tercapai,” katanya.
Ia menambahkan pembelajaran tidak diarahkan pada target kuantitatif seperti kewajiban khatam Alquran, melainkan pada kualitas pemahaman dan perubahan perilaku siswa.
Baca Juga:PMI Indramayu Dipulangkan dari Oman, KemenP2MI Tindak Dugaan Perekrutan Ilegal Pekerja Migran Indonesia HET MinyaKita Rp15.700 Harus Dipatuhi, di Lapangan Banyak yang Dijual Rp19.000
“Penilaiannya lebih pada pembiasaan ibadah dan sikap sehari-hari, bukan sekadar laporan kegiatan,” ujarnya.
Jajang menilai, program relatif mudah diterapkan di daerahnya karena banyak madrasah memiliki keterkaitan dengan pesantren.
“Sebagian besar madrasah negeri di Kabupaten Cirebon punya ikatan dengan pesantren, sehingga pelaksanaan Pesantren Ramadan tidak menjadi kendala,” katanya.
Selain kegiatan ibadah, madrasah juga didorong mengisi Ramadan dengan aktivitas sosial seperti berbagi takjil, santunan, serta edukasi zakat fitrah.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting agar siswa tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
