RADARCIREBON.ID – Aktivitas ibadah Ramadan di Masjid Keramat Gamel, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, berlangsung lebih ramai dibanding hari biasa. Selain menjadi tempat salat berjamaah, masjid kuno ini juga dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah yang masih dipertahankan keasliannya oleh masyarakat.
Juru Pelihara Masjid Kuno Gamel, Munija, mengatakan bahwa masjid tersebut dulunya bernama Masjid Sang Ciptasari, kemudian berubah menjadi Masjid Nurul Karomah.
Namun belakangan, majid itu dikenal sebagai Masjid Kuno Gamel sebagaimana nama yang teregister di dalam inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten.
Baca Juga:Waspada! Modus Baru Pengantin Pesanan, Warga Cirebon Disekap di ChinaJalan Mulus Jelang Mudik, DPUTR Kota Cirebon Pastikan Perbaikan Segera Tuntas
“Hingga saat ini fungsinya tetap sama, sebagai tempat ibadah, untuk Salat Fardu, Salat Jumat, Salat Id dan kegiatan keagamaan lainnya. Sementara pada bulan Ramadan, di sini kita mengadakan pengajian setiap menjelang berbuka puasa dan setelah Salat Subuh,” kata Munija, Jumat (27/2/2026).
Nah, dalam catatan sejarah setempat, terdapat figur Syekh Windu Aji yang disebut sebagai tokoh awal yang dikaitkan dengan pendirian masjid, yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Linu Aji. Di mana, pada masa Kesultanan Cirebon, masjid ini mendapat perhatian dari Sultan Kanoman pertama yang melakukan renovasi sebagai bentuk penghormatan. Pembuatan atap masjid pada abad ke-17 bahkan diabadikan melalui prasasti pada blandar yang hingga kini masih dapat ditemukan.
Lebih jauh, Munija mengungkapkan bahwa bangunan utama Masjid Gamel berbentuk bujursangkar berukuran sekitar 9,3 x 9,3 meter dan ditopang 16 tiang. Empat di antaranya merupakan saka guru dari kayu jati berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan tinggi kurang lebih 4,5 meter. Saka guru berdiri di atas umpak dengan ketinggian berbeda antara sisi barat dan timur, menunjukkan teknik konstruksi tradisional masjid kuno Cirebon.
Kemudian, ruang utama memiliki beberapa pintu masuk dari berbagai sisi. Bagian dalam kini telah mengalami penyesuaian berupa pelapisan keramik pada lantai dan dinding, namun struktur utama masih dipertahankan. Atap masjid berbentuk limasan bertumpang dua dengan rangka kayu dan penutup genteng palentong.
Adapun keunikan bangunan ini terdapat pada inskripsi yang dipahat di salah satu balok penyangga (saka blandar). Tulisan tersebut menggunakan aksara Rikasara, aksara kuno khas Cirebon yang kini jarang ditemukan. Inskripsi berkaitan dengan proses pembuatan atap masjid dan menjadi salah satu sumber informasi sejarah perkembangan Islam di wilayah Cirebon.
