Vina Cirebon Terjebak Pernikahan Palsu, Janji Mahar Rp100 Juta Berubah Petaka, Kini Masih Tertahan di China

Vina Terjebak Pernikahan Palsu, Kini Masih Tertahan di China
BERHARAP DIPULANGKAN : Paman Vina, Samija (tengah) didampingi oleh kuasa hukum keluarga berharap pemerintah bisa membantu memulangkan Vina yang diduga menjadi korban TPPO dengan modus pengantin pesanan, Jumat (27/2/2026). Foto: Khoirul Anwarudin/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Keluarga Vina (26), warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, masih diliputi kecemasan. Sejak Agustus 2025, Vina tak lagi hidup seperti yang dijanjikan. Ia kini berada di China dan diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus pernikahan atau pengantin pesanan.

Kuasa hukum keluarga, Asep Maulana Hasanudin dari YLBHI Garuda Sakti, mengatakan bahwa harapan keluarga kini bertumpu pada kehadiran negara. Mereka meminta pemerintah pusat, aparat penegak hukum, hingga perwakilan diplomatik Indonesia di Negeri Tirai Bambu itu segera turun tangan memastikan keselamatan Vina dan memulangkannya ke Tanah Air.

“Kami mohon kepada pemerintah, baik dari KBRI dan Kemenlu, untuk bisa membantu saudari Vina agar kembali ke Indonesia. Termasuk kepada Bapak Dedi Mulyadi, dengan relasi dan jaringan beliau yang luas, mudah-mudahan bisa membawa kembali Vina pulang ke sini,” ujar Asep saat ditemui di Desa Gombang, Jumat (27/2/2026).

Baca Juga:Waspada! Modus Baru Pengantin Pesanan, Warga Cirebon Disekap di ChinaJalan Mulus Jelang Mudik, DPUTR Kota Cirebon Pastikan Perbaikan Segera Tuntas

Menurut Asep, sejak diberangkatkan pada 7 Agustus 2025, kondisi Vina justru berbanding terbalik dengan janji kehidupan layak yang sebelumnya disampaikan para perantara. Komunikasinya dengan keluarga dibatasi. Paspor dan telepon genggamnya disebut berada dalam penguasaan keluarga suami.

“Vina mengatakan ke pihak keluarga kalau dia mengalami tekanan dan kekerasan fisik. Ia kerap dipaksa melayani suaminya dan mendapat perlakuan kasar jika menolak. Kondisi itu membuat Vina merasa tertekan dan berulang kali meminta agar segera dipulangkan,” jelas Asep.

Upaya mencari perlindungan pun sempat dilakukan. Vina mengaku pernah melarikan diri ke Kota Puyang di Provinsi Henan, dengan harapan mendapat bantuan dari aparat setempat. Namun, ia justru mengalami dugaan kekerasan saat berada di kantor polisi Liufu. Ia menyebut ibu mertuanya, sempat memukulnya di lokasi tersebut.

“Ketika menolak dibawa kembali ke rumah, Vina diseret dan dipukul, sementara aparat yang berada di tempat tidak memberikan perlindungan berarti,” lanjutnya.

Asep menjelaskan bahwa persoalan ini bermula saat Vina bekerja di sebuah restoran di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Saat itu, Ia sebenarnya telah diingatkan oleh atasannya agar berhati-hati bergaul dengan warga negara asing. Namun melalui relasi rekan kerja atasannya, Vina diperkenalkan dengan pria asal China berinisial ZH. Pertemuan demi pertemuan kemudian berlanjut hingga ia dikenalkan kepada pria lain berinisial WJ yang kemudian menjadi suaminya.

0 Komentar