Ia menyebut sebagian besar maskapai yang digunakan adalah penerbangan langsung dari Jeddah ke Jakarta. Rute tersebut tidak melewati atau transit di wilayah yang saat ini disebut-sebut menjadi titik rawan atau target dalam konflik.
Hingga hari kemarin, menurut dia, belum ada peringatan atau instruksi resmi dari pemerintah Indonesia maupun otoritas Arab Saudi terkait penghentian sementara penerbangan. Baik keberangkatan dari Jakarta menuju Saudi maupun pemulangan dari Saudi ke Jakarta masih berjalan normal.
Ia juga memastikan tidak ada instruksi khusus terkait pemulangan lebih awal atau penundaan keberangkatan jamaah berikutnya. Pemberangkatan tetap dibuka dan berjalan sesuai jadwal. “Masih dibuka. Untuk Jakarta-Saudi dan Saudi-Jakarta ini belum ada peringatan,” katanya.
Baca Juga:Mudik Aman, Kakorlantas: Butuh Kolaborasi Lintas SektorVina Gombang Diminta Bayar Rp500 Juta Supaya Dipulangkan dari China
Terkait kekhawatiran jamaah, H Dede mengakui ada sebagian yang terpengaruh oleh derasnya informasi mengenai perang di Timur Tengah. Namun ia menilai pemberitaan sering kali lebih besar dari realita yang terjadi di lokasi ibadah.
Meski demikian, ia menegaskan kondisi di Makkah relatif kondusif. Aktivitas ibadah di Masjidilharam berjalan seperti biasa. Jamaah dapat melaksanakan tawaf, sai, dan ibadah lainnya tanpa pembatasan khusus yang berkaitan dengan konflik.
Ia juga menyinggung bahwa sejumlah target dalam eskalasi konflik berada di wilayah lain, seperti Qatar dan sekitarnya, yang secara geografis cukup jauh dari Jeddah maupun Makkah. “Yang menjadi target itu di Qatar, di Dubai, dan sekitar lainnya, yang jauh dari Jeddah,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan maskapai yang tidak transit di wilayah yang dianggap krusial -termasuk kawasan dengan keberadaan pangkalan militer asing- menjadi salah satu pertimbangan dalam memastikan keamanan perjalanan jemaah. “Sehingga Insya Allah untuk Jeddah-Jakarta dan sebaliknya tidak terganggu dalam kondisi saat ini,” katanya.
Selain aspek teknis perjalanan, Dede juga menyoroti dinamika politik internasional yang turut menjadi perhatian publik di dalam negeri. Ia menyebut dukungan Presiden Prabowo terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi salah satu isu yang diperbincangkan.
Menurutnya, dinamika itu bisa menjadi pertimbangan dalam kebijakan luar negeri Indonesia ke depan, terutama terkait posisi Indonesia dalam konflik di Timur Tengah dan isu Palestina. Ia memandang ada dua sisi dalam melihat strategi diplomasi pemerintah. Dalam perspektif positif, strategi mendekati pihak-pihak berkepentingan dapat dimaknai sebagai upaya masuk ke dalam lingkaran pengaruh untuk mendorong perdamaian atau membantu Palestina.
