Dari sisi keamanan, penerapan teknologi biometrik wajah dinilai mampu menekan potensi penyalahgunaan identitas. Studi GSMA menunjukkan sistem ini dapat mengurangi risiko identitas ganda hingga lebih dari 80 persen serta meningkatkan efektivitas pengelolaan penipuan hingga 20–30 persen. Sementara itu, tingkat akurasi teknologi pengenalan wajah modern disebut telah mencapai 95–99 persen berdasarkan standar National Institute of Standards and Technology (NIST).
Kemudahan juga menjadi salah satu keunggulan sistem ini. Proses registrasi yang sebelumnya memerlukan waktu sekitar lima hingga tujuh menit kini dapat diselesaikan kurang dari satu menit melalui mekanisme otomatis. Sistem ini juga menerapkan prinsip security by design dan data minimization, di mana data biometrik pelanggan tidak disimpan oleh perusahaan, melainkan langsung divalidasi ke sistem Dukcapil.
Inisiatif digital tersebut telah diuji coba sejak September 2025 melalui program percontohan di sejumlah gerai dan kanal digital. Setelah melalui proses pengujian, XLSMART menilai sistem registrasi biometrik telah siap digunakan secara luas untuk memberikan pengalaman layanan yang lebih aman dan efisien.
Baca Juga:Persib Masih Kokoh di Puncak! Persija Gagal Pangkas Jarak Usai Ditahan Borneo FC 2-2 di JISPersib Ditahan Persebaya 2-2, Bojan Hodak Enggan Komentar Soal Kepemimpinan Wasit
Seiring dengan penguatan sistem registrasi digital, adopsi teknologi eSIM juga terus meningkat. Hingga saat ini jumlah pengguna eSIM di jaringan XLSMART telah melampaui 1,6 juta pelanggan. Perusahaan menilai tren tersebut akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan telekomunikasi yang lebih praktis dan terintegrasi secara digital.
Melalui penerapan registrasi biometrik dan perluasan penggunaan eSIM, XLSMART berharap dapat memperkuat ekosistem telekomunikasi yang aman, terpercaya, sekaligus mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia.
