RADARCIREBON.ID – Presiden Prabowo Subianto pernah mencanangkan jika Indonesia telah swasembada pangan khususnya beras. Namun dalam kenyataannya, Indonesia masih harus impor beras 1000 ton dari Amerika Serikat (AS).
Kenyataan ini memang seperti tidak masuk akal. Negara yang sudah swasembada dan memiliki lumbung pangan yang cukup, tetapi harus membeli beras dari negara lain.
Ternyata banyak hal yang mempengaruhi Indonesia harus impor 1000 ton beras dari AS. Salah satunya karena kedua negara tersebut terikat oleh perjanjian perdagangan resiprokal.
Baca Juga:Masyarakat Tak Perlu Panic Buying, Stok BBM AmanMenlu Iran Bantah Ayatollah Ali Khamenei Tewas, Araghci: Seluruh pejabat tinggi masih hidup
Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump telah menandatangani dokumen Agreements on Reciprocal Trade atau perjanjian perdagangan timbal balik kedua negara.
Dalam perjanjian tersebut, salah satu isinya, disepakati jika Indonesia akan mengimpor komoditi pertanian dari AS. Total nilai impornya senilai USD 4,5 atau sekitar Rp75 triliun.
Di antara komoditi yang diimpor dari AS adalah beras. Indonesia berkomitmen akan mengimpor 1.000 ton beras per tahun dari AS. Beras yang dimaksud meliputi kategori dari gabah, beras lepas kulit, beras putih dan beras pecah (menir).
Mengapa harus impor beras? Padahal para petani Indonesia bisa menanam bahkan sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri?
“Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri,” kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limaseto.
Ternyata 1000 ton beras yang diimpor dari AS, menurut penjelasannya, memiliki jenis klasifikasi khusus. Beras khusus yang dimaksud adalah beras berdasarkan jenis dan varietas tertentu. Beras itu hanya bisa beredar dengan izin dari pemerintah.
Di antara contoh yang dimaksud dengan beras khusus itu adalah beras ketan, japonica atau beras Jepang, dan basmati atau beras India.
Baca Juga:Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dikabarkan Tewas karena Serangan Udara Amerika – IsraelMasjid Sang Cipta Rasa Geger, Ada Jamaah Meninggal saat Khutbah
Dalam catatan Haryo, Indonesia tidak pernah mengimpor beras dari AS dalam lima tahun tahun terakhir. Selain itu, jumlah komitmen itu tidak signifikan.
“Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton, tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003% dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025,” ungkap Haryo.
