MAJALENGKA – Program makan bergizi gratis (MBG) yang tengah berjalan di Kabupaten Majalengka menghadapi kendala di lapangan. Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengaku kesulitan mendapatkan pasokan susu kemasan untuk kebutuhan program.
Kesulitan ini bukan karena stok kosong, melainkan adanya pembatasan pembelian dari pihak distributor. Akibatnya, pengelola dapur SPPG tidak bisa membeli susu dalam jumlah besar seperti yang mereka butuhkan.
Pembatasan Pembelian Bikin Repot
Kepala Dapur SPPG Sukahaji, Feby, menceritakan pengalamannya saat hendak membeli susu untuk kebutuhan program. Pihak distributor ternyata membatasi jumlah yang bisa dibeli.
Baca Juga:Perkuat ESG Pasca Merger, XLSMART Raih Rating 2 dari Sustainable FitchBaznas Majalengka Salurkan Rp400 Juta untuk 300 Sekolah Lewat Program SIGAP
“Padahal ini program pemerintah yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat. Namun kami justru kesulitan membeli susu karena dibatasi distributor,” keluhnya, Selasa (10/3/2026).
Menurut Feby, distributor beralasan pembatasan ini dilakukan untuk menjaga harga di tingkat ritel agar tidak timpang. Namun di sisi lain, kebijakan ini justru menyulitkan dapur SPPG yang membutuhkan pasokan dalam jumlah besar.
Kebutuhan Besar, Pasokan Tersendat
Hal serupa juga dialami pengelola dapur SPPG Andir di Kecamatan Jatiwangi. Iding, pengelola dapur tersebut, membenarkan bahwa saat ini cukup sulit mendapatkan susu kemasan sesuai kebutuhan operasional.
Dalam satu pekan, dapur SPPG Andir membutuhkan sekitar 300 karton susu atau setara dengan 1.200 kemasan. Jumlah tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan para penerima manfaat program makan bergizi.
“Kebutuhan kami cukup besar setiap minggu. Jika pasokan dibatasi, tentu akan menghambat pelaksanaan program di lapangan,” ungkap Iding.
