Selain itu, pemeriksaan kesehatan bagi pengemudi angkutan umum juga dilaksanakan sejak 6 hingga 14 Maret di sejumlah lokasi, seperti Terminal Sumber, Terminal Weru, Terminal Ciledug, serta beberapa pool perusahaan otobus di wilayah Kabupaten Cirebon.
Tidak hanya pelayanan kesehatan, Dinkes juga melakukan pengawasan kesehatan lingkungan serta keamanan makanan di rest area yang menjadi tempat singgah pemudik. Langkah ini dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan selama perjalanan.
“Mobilitas masyarakat saat mudik sangat tinggi, sehingga kami juga meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi penyakit yang bisa menjadi kejadian luar biasa (KLB), apalagi saat ini masih musim hujan,” katanya.
Baca Juga:Konflik Iran-AS Berimbas ke Energi Dalam Negeri60 Lampu PJU di Kota Cirebon Rusak, Percepat Perbaikan Jelang Arus Mudik Lebaran 2026
Ia menambahkan, pelayanan kesehatan di posko mudik diberikan secara gratis. Namun jika pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit, maka akan menyesuaikan dengan kepesertaan BPJS Kesehatan yang dimiliki.
Dinkes juga memastikan ketersediaan obat-obatan di posko kesehatan. Jenis obat yang disiapkan antara lain paracetamol untuk meredakan nyeri dan demam, serta obat anti mual (antiemetik) yang sering dibutuhkan pemudik.
“Pelaporan kondisi kesehatan di posko mudik juga dilakukan secara digital melalui aplikasi yang terhubung langsung dengan Kementerian Kesehatan,” terangnya.
Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, jumlah pemudik yang memanfaatkan layanan posko kesehatan cenderung menurun. Pada 2023 tercatat 783 kasus kunjungan, kemudian turun menjadi 687 kasus pada 2024, dan kembali menurun menjadi 437 kasus pada 2025.
“Keluhan kesehatan yang paling sering dialami pemudik antara lain demam, sakit kepala, pegal-pegal, serta mual. Sementara untuk kasus kecelakaan, tahun lalu paling banyak dilaporkan di posko Bunder Rawagatel, Puskesmas Plumbon, dan Puskesmas Pangenan dengan total sekitar 50 kasus,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan posko kesehatan di Kabupaten Cirebon sangat penting karena wilayah ini dikenal sebagai salah satu titik terpadat arus mudik di Jawa Barat.
“Cirebon menjadi titik lelah bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jauh, sehingga risiko kecelakaan maupun gangguan kesehatan cukup tinggi,” katanya.
Baca Juga:Bongkar Sindikat Dokumen Kendaraan Palsu, Polisi Sita 20 Ribu STNK-BPKB Palsu dan 20 Mobil BodongTanamkan Nilai-nilai Pramuka, Siswa-siswi MTsN 2 Cirebon Tebar Takjil
Selain itu, kondisi cuaca yang masih ekstrem juga menjadi perhatian tersendiri. Berdasarkan penilaian indeks risiko bencana, Kabupaten Cirebon memiliki skor 170,8 yang tergolong tinggi di Jawa Barat.
