Prabowo Turunkan Bunga PNM Mekaar 5 Persen, Pemerintah Ringankan Beban 16 Juta Ibu Pelaku Usaha

Maruarar
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (11/3/2026).
0 Komentar

MAJALENGKA – Pemerintah mengambil langkah baru untuk meringankan beban pelaku usaha mikro. Presiden Prabowo Subianto memutuskan menurunkan suku bunga pinjaman program Permodalan Nasional Madani (PNM) sebesar 5 persen bagi peserta program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar).

Kebijakan tersebut ditujukan bagi jutaan perempuan pelaku usaha mikro yang selama ini memanfaatkan program pembiayaan Mekaar untuk mengembangkan usaha kecil di tingkat rumah tangga.

Keputusan itu disampaikan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (11/3/2026). Ia menyebut kebijakan tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat ekonomi masyarakat kecil, khususnya perempuan pelaku usaha mikro.

Baca Juga:Duel Puncak Klasemen: Bojan Hodak Siap Ladeni Borneo FC, Satu Pilar Persib Dipastikan AbsenMahasiswa BSA UIN Siber Gelar Pesantren Ramadhan dan Semarak Literasi Arab di MTs NU Panembahan

Menurut Maruarar, penurunan bunga pinjaman akan memberikan keringanan bagi nasabah program Mekaar yang selama ini mengandalkan modal usaha dari PNM untuk menjalankan kegiatan ekonomi keluarga.

“Saya bertemu langsung dengan ibu-ibu peserta PNM Mekaar yang merasa sangat terbantu dan bahagia karena bunganya diturunkan 5 persen oleh Presiden Prabowo bersama Pak Rosan Danantara, Dirut BRI dan PNM. Ini menunjukkan kebijakan yang benar-benar pro rakyat,” kata Maruarar.

Program Mekaar saat ini diikuti lebih dari 16 juta perempuan di seluruh Indonesia. Sebagian besar peserta menjalankan usaha mikro dari rumah, mulai dari berjualan makanan, membuat kerajinan, hingga usaha kecil lain yang menjadi tambahan penghasilan keluarga.

Maruarar menilai program tersebut telah membuka peluang bagi perempuan prasejahtera untuk lebih mandiri secara ekonomi. Tidak sedikit peserta yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil.

Ia mengatakan tidak sedikit peserta program yang harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan keluarga karena suami tidak memiliki pekerjaan tetap atau sedang mengalami sakit berkepanjangan.

“Untuk lebih dari 16 juta ibu-ibu yang berjuang dari rumahnya masing-masing, sebagian di antaranya bahkan menjadi penopang utama keluarga. Ada yang suaminya tidak punya pekerjaan tetap atau sedang sakit, sehingga mereka yang harus memastikan dapur tetap mengepul,” ujarnya.

Maruarar menilai para perempuan pelaku usaha mikro tersebut memiliki semangat kemandirian yang tinggi. Mereka memilih bekerja dan berusaha sendiri daripada bergantung pada bantuan orang lain.

0 Komentar