Persis Berharap Idul Fitri Tetap 21 Maret, Pemerintah Diminta Konsisten

lebaran 2026 tanggal berapa
Pemerintah diminta konsisten dalam penerapan Idul Fitri atau Lebaran 2026. Foto: Dok - radarcirebon.id
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Organisasi kemasyarakatan (Ormas) Persatuan Islam (Persis) berharap hari raya Idul Fitri atau Lebaran 1447 Hijriah tetap pada ketetapan semula. Yakni pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Harapan ormas tersebut disampaikan oleh Dr H Acep Saepudin, anggota Dewan Hisab dan Ru’yat Pengurus Pusat (PP) Persis. Dia pun meminta pemerintah tetap konsisten dalam menerapkan kriteria yang telah ditetapkan.

Diungkapkan Acep, sejak 2022 atau 1443 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) RI telah memperbarui kriteria penetapan awal bulan hijriah.

Baca Juga:Resmi Rilis Maret 2026 di Netflix, Live-Action One Piece Melanjutkan Arc Dari Musim SebelumnyaDestinasi Wisata Libur Lebaran di Majalengka, Simak Rekomendasi Berikut Ini

Kriteria tersebut berdasarkan Imkanur Rukyat Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS). Dalam MABIMS yang lama disebutkan parameter ketinggian hilal 2°, dengan elongasi 3°. Atau dengan umur bulan 8 jam.

Parameter lama itu berubah menjadi menjadi kriteria Neo MABIMS. Dengan parameter tinggi bulan minimal 3° dan elongasi 6,4°.

“Perubahan ini dilakukan berdasarkan pertimbangan ilmiah,” ungkap Acep Saepudin dalam tulisan artikelnya, baru-baru ini.

Di lingkungan Persis, jelasnya, kriteria Neo MABIMS telah digunakan sejak tahun 2012. Pada saat itu, kriteria ini dikenal sebagai Kriteria Hisab Imkan Rukyat Astronomis (atau Kriteria LAPAN 2011). Parameter yang digunakan dengan beda tinggi 4° (setara dengan tinggi hilal 3°) dan elongasi 6,4°.

“Setelah empat tahun diberlakukan secara resmi, terlihat bahwa Pemerintah bersikap konsisten dalam menggunakan kriteria ini,” jelasnya.

Konsistensi itu, katanya, tercermin dalam penyusunan Kalender Hijriah Indonesia yang berbasis Neo MABIMS. Juga, penggunaannya sebagai acuan dalam menilai dan menerima kesaksian rukyat pada sidang itsbat.

Berdasarkan data hisab, katanya, ijtimak menjelang Syawwal 1447 H akan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.26 WIB. Pada saat itu matahari terbenam di wilayah Indonesia.

Baca Juga:Masyarakat Tak Perlu Panic Buying, Stok BBM AmanMenlu Iran Bantah Ayatollah Ali Khamenei Tewas, Araghci: Seluruh pejabat tinggi masih hidup

Posisi bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0° 53′ 58″ hingga 3° 07′ 15″, dan elongasi antara 4° 32′ 57″ hingga 6° 06′ 39″. Data ini menunjukkan bahwa kriteria Imkanur Rukyat Neo MABIMS belum terpenuhi.

“Dengan demikian, berdasarkan kriteria tersebut, 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” tegasnya.

Sementara itu, lanjutnya, Muhammadiyah dengan menggunakan Kriteria Hisab Global Tunggal (KHGT) telah menetapkan bahwa 1 Syawwal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026.

0 Komentar