Posko Sunyaragi menjadi salah satu titik utama pengendalian arus. Dari lokasi ini, pemantauan dilakukan secara menyeluruh. Koordinasi antarpetugas terus berlangsung. Setiap perkembangan lalu lintas dicatat dan dilaporkan.
Di posko mudik, petugas berinteraksi langsung dengan pemudik. Memberi arahan. Memberi bantuan. Menjadi bagian dari perjalanan mereka. “Momen berkesan ya ikut meramaikan saja,” kata Gambring. Baginya, yang terpenting adalah pemudik sampai tujuan dengan selamat.
Meski jarang bertemu, komunikasi dengan keluarga tetap dijaga. “Kalau kangen ya lewat WA atau telepon,” ujarnya. Ia tinggal di wilayah Kota Cirebon. Keluarganya berada di Kelurahan Pegambiran. Istri dan dua anak menunggu di rumah. Namun selama masa mudik, waktu bersama menjadi terbatas.
Baca Juga:Petugas KAI Kini Sibuk di Jalur Mudik 2026, Ritme Kerja Berubah, Satu Shift Awasi 65 Kereta ApiBesok Mulai Puncak Mudik, Kapolda Jabar: Akan Diberlakukan Beberapa Rekayasa Lalin
Selain fisik, tekanan juga dirasakan secara emosional. Terutama dari keluarga. Anak-anak yang masih sekolah sering mengungkapkan keinginan sederhana. Ingin dibelikan pakaian baru. Ingin jalan-jalan. Namun tidak selalu bisa dipenuhi. “Anak bilang, jangan kerja saja,” kata Gambring menirukan.
Ia hanya bisa menjelaskan bahwa tugas harus dijalankan. Sebagai abdi negara, tanggung jawab menjadi prioritas. Di jalur Pantura, arus kendaraan terus bergerak. Belum mencapai puncak, namun sudah menunjukkan peningkatan. Petugas tetap berdiri di tepi jalan. Mengatur arus yang datang tanpa henti. Bendera terus digerakkan. Isyarat terus diberikan.
Di bawah panas jalanan, ritme itu berlangsung berulang. Dari pagi hingga malam. Selama 12 jam. Tanpa jeda panjang. Di posko mudik itu, petugas tetap berjaga. Mengawal perjalanan pemudik yang terus mengalir. Sementara di rumah, keluarga menunggu waktu yang lebih longgar. (*/habis)
