Sementara itu, ratusan ribu kendaraan juga memadati jalur keluar Jakarta. Dalam sehari saja, lebih dari 117 ribu kendaraan meninggalkan ibu kota Jakarta dan sekitarnya.
Maka wajar jika pemerintah memberikan peringatan yang serius. Lantaran puncak arus balik yang diprediksi terjadi pada 24 Maret 2026, masyarakat diminta mengantisipasinya. Kalau tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin arus balik nanti justru lebih “gila” dari arus mudik.
Mengapa tradisi mudik Lebaran yang setiap tahun yang membikin jalanan macet parah namun tetap saja dilakukan? Ternyata mudik bukan cuma soal pulang kampung atau kangen keluarga, ada makna besar yang selama ini jarang disadari.
Baca Juga:Lalu Lintas Tol Cipali Hari Ini, Ada Beberapa Perlambatan Arah CirebonTol Layang MBZ Paling Horor, Tak Siap Hadapi Mudik
Fenomena mudik sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Artinya, kebiasaan ini bukan tren biasa, tapi warisan budaya yang sudah mengakar kuat.
Yang bikin makin kaget, mudik justru jadi “ritual sosial” penting. Di momen inilah hubungan keluarga diperkuat, cerita hidup dibagikan, hingga jadi ajang refleksi diri bagi para perantau.
Mudik juga diam-diam menggerakkan ekonomi desa. Uang, oleh-oleh, hingga bantuan dari para perantau bikin kampung halaman hidup kembali.
Indonesia bukan satu-satunya yang masyarakatnya gemar menggelar mudik. Negara seperti Tiongkok hingga India juga memiliki tradisi serupa dengan skala besar.
