Dari yang 80 persen tersebut dipecah lagi menjadi 3 bagian. Sebanyak 3% untuk pengurus, 15% untuk anggota dalam bentuk tunai dan 82% untuk anggota berupa voucher.
Agar tidak menghayal berlebihan, Bambang pun memberikan simulasi jika KDMP untung Rp 1 miliar. Maka keuntungan tersebut dibagi empat. Untuk desa Rp200 juta, pengurus Rp24 juta, anggota dapat uang tunai Rp120 juta dan voucher Rp656 juta.
Biasanya pengurus koperasi itu bukan hanya seorang tapi bisa 5 hingga 6 orang, bahkan bisa lebih. Itu artinya Rp 24 juta tersebut dibagi untuk misalnya 6 orang pengurus.
Baca Juga:Lalu Lintas Tol Cipali Hari Ini, Ada Beberapa Perlambatan Arah CirebonTol Layang MBZ Paling Horor, Tak Siap Hadapi Mudik
Maka setiap orang pengurus akan memperoleh Rp 4 juta per tahun. Jika dihitung per bulan, maka seorang pengurus hanya mendapatkan bagian Rp 300 ribu.
Bambang pun membandingkan pendapatan pengurus dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Misalnya pengurus harus rapat bolak-balik, bensin sendiri, beli kopi sendiri dan fotokopi sendiri.
“Kadang disuruh ‘ayo semangat demi desa’. Tapi pas pulang dompet malah lebih ringan. Belum lagi kondisi KDMP sekarang,” ungkapnya.
Maka secara jujur Bambang kembali mengatakan jika banyak KDMP hari ini isinya masih pengurus saja. Anggotanya barus sebatas perangkat desa. Simpanan pokok belum berani memungut. Simpanan wajib juga setali tiga uang.
Dia pun menyindir, akhirnya koperasi lebih mirip rapat daripada usaha. “Pengurus: pahlawan tanpa jasa. Tanpa uang juga,” sindirnya.
Terkadang Bambang melihat pengurus itu memang mukanya tegar. Bicaranya “siap mengabdi”. Namun dalam hati: “Ya Allah, bensin lagi,” selorohnya.
Bambang pun kembali menegaskan jika SHU itu bukan gaji, bukan honor dan bukan tunjangan. SHU itu hasil usaha. Jika usahanya belum jalan, berati yang dibagi juga belum ada.
Baca Juga:Resmi Rilis Maret 2026 di Netflix, Live-Action One Piece Melanjutkan Arc Dari Musim SebelumnyaDestinasi Wisata Libur Lebaran di Majalengka, Simak Rekomendasi Berikut Ini
Dijelaskannya, dalam tahap awal pengelolaan masih didampingi dan diarahkan oleh PT Agrinas Pangan. Termasuk support SDM seperti SPPI. “Artinya fase sekarang itu masih bangun sistem, bukan panen hasil,” tegas Bambang.
Jadi jika ada yang mengatakan jika “Enak ya jadi pengurus koperasi”, dibantah oleh Bambang. Namun dia setuju, enak jika koperasinya sudah untung. “Kalau belum? Ya masih fase pengabdian dan pengeluaran,” tegasnya lagi.
