Aris menyebut, tak jarang terjadi letusan kecil di salah satu kawah tersebut. Misalnya letusan di Kawah Sileri pada tanggal 29 April 2021 lalu. Letusan ini mengakibatkan lahan pertanian rusak tertutup lumpur vulkanik.
Ternyata, Aris mengungkapkan, letusan-letusan kawah di Dieng tidak hanya terjadi pada saat ini saja. Dahulu, pada tanggal 20 Februari 1979, Kawah Sinila pernah mengalami letusan yang besar.
Untuk diketahui, Kawah Sinila yang berada di sebelah timur Kawah Timbang mengalamai erupsi. Diawali dengan gempa vulkanik yang cukup kuat dan terus menerus selama beberapa hari. Juga disertai dengan suara dentuman keras.
Baca Juga:Lalu Lintas Tol Cipali Hari Ini, Ada Beberapa Perlambatan Arah CirebonTol Layang MBZ Paling Horor, Tak Siap Hadapi Mudik
Hal ini mengakibatkan Kawah Timbang yang berdekatan dengan Kawah Sinila reaktif. Tidak diketahui sebelumnya, ternyata Kawah Timbang mengandung gas beracun, yaitu hidrogen sulfida atau metana konsentrasi tinggi.
Aris menjelaskan, erupsi Kawah Sinila membuat warga desa sekitar berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Termasuk warga Desa Kepucukan. Untuk diketahui, Kepucukan adalah desa yang berjarak kurang dari 1 km dari Kawah Sinila.
Warga Desa Kepucukan menyelamatkan diri ke arah barat menghindari erupsi Kawah Sinila. Tetapi ternyata dalam perjalanan mereka terjebak oleh gas hidrogen sulfida yang keluar melalui rekahan disekitar Kawah Timbang. Rekahan ini terjadi karena gempa yang berasal dari Kawah Sinila tadi.
“Akibat gas hidrogen sulfida tersebut, sebanyak 147 orang meninggal dunia dan banyak warga yang mengungsi ke desa terdekat,” ungkap Aris.
Aris mengutip tulisan Imam Khasani (1998), hidrogen sulfida (H2S) adalah gas yang tidak berwarna, berbau seperti telor busuk, bersifat iritan pada mata dan saluran pernafasan. Gas tersebut juga bisa mematikan syaraf penciuman. Pada konsentrasi tinggi sangat berbahaya jika terhirup yang dapat menyebabkan kematian.
Berdasarkan pendapat tersebut tidak heran jika hanya dalam beberapa menit banyak yang tiba-tiba tergelak di jalan dan akhirnya meninggal dunia. Semenjak peristiwa tersebut, desa Kepucukan dikosongkan dan warganya yang tersisa diminta untuk bertransmigrasi ke Pulau Sumatera.
Peristiwa Kawah Sinila ini menjadi bencana besar dan mendapat perhatian dari banyak pihak. Termasuk Presiden Seoharto yang pada saat itu turun langsung meninjau ke lokasi pengungsian.
