Ketika Rakeyan dari Sancang itu berusia 50 tahun, dia pergi ke Tanah Suci. Konon dia ke Tanah Suci hanya ingin menjajal kemampuan “kanuragan” Syaidina Ali bin Abi Thalib (599 -661). Ali memang memiliki kesaktian ilmu perang tingkat tinggi.
Memang masuk akal karena Rakeyan Sancang hidup semasa dengan Imam Ali bin Abi Thalib. Sumber lainnya menyebutkan, Rakeyan Sancang tidak sempat berkelahi dengan Syaidina Ali bin Abi Thalib. Dia menyatakan kalah akibat tidak mampu mencabut tongkat Syaidina Ali yang hanya menancap di tanah berpasir.
Sejak itulah Rakeyan Sancang menyatakan dirinya masuk Islam, kemudian meneruskan berguru kepada Syaidina Ali. Bahkan Rakeyan Sancang diceritakan, turut serta membantu Imam Ali bin Abi Thalib dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara.
Baca Juga:Arus Balik Lebaran 2026 Hari Ini, Tol Cipali Masih One WayArus Balik Lebaran Hari Ini, 87 Ribu Kendaraan Lintasi Tol Cipali
Bukan itu saja, Rakayan Sancang juga ikut membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M). Dia kenal sebagai seorang tokoh asal Asia Timur Jauh.
Setelah itu Rakayan kembali ke pesisir selatan wilayah Tarumanagara yakni di Cilauteureun, Leuweung atau Hutan Sancang dan Gunung Nagara. Perlahan-lahan dia memperkenalkan Islam ke warga di hutan tersebut.
Ternyata hanya sedikit yang mau menerima ajaran Islam yang dibawa Rakeyan Sancang. Dakwah Rakeyan Sancang menyebarkan Islam terdengar oleh Prabu Sudhawarman.
Menurut Sang Raja, agama baru itu dinilai bisa mengganggu stabilitas pemerintahan. Karena itu timbullah pertempuran yang ketika itu Senapati Brajagiri (anak angkat Sang Kertawarman) turut memimpin pasukan.
Rakeyan Sancang unggul. Prabu Sudhawarman sempat melarikan diri yang dikejar Rakeyan Sancang. Tapi, tusuk konde Rakeyan Sancang jatuh. Pertempuran pun terhenti. Kemudian ketika berhenti, mereka saling menceriterakan silsilah. Pada saat itulah Rakeyan Sancang mengaku sebagai anak Kertawarman.
Peristiwa Rakeyan Sancang mengejar Prabu Sudharwarman itu berkembang menjadi ceritera dari mulut ke mulut. Kemudian dikaitkan dengan Kiang Santang yang mengejar Prabu Siliwangi, bapaknya, untuk masuk Islam.
Padahal antara Rakeyan Sancang dan Kian Santang hidup tidak se-zaman. Dengan begitu, kedua tokoh itu bukan orang yang sama. Artinya, upaya Kian Santang memaksa ayahnya dikejar hingga Sancang untuk masuk Islam, tidak masuk akal.
