Lebaran Blue: Sunyi Setelah Riuh

Oleh: Mustopa, M. Ag.
Oleh: Mustopa, M. Ag.
0 Komentar

Di sinilah pentingnya memaknai “Lebaran Blue” secara lebih bijak.

Alih-alih memandangnya sebagai akhir dari kebahagiaan, kita justru dapat menjadikannya sebagai pintu refleksi. Bahwa nilai-nilai yang kita rasakan selama Lebaran—silaturahmi, kasih sayang, keikhlasan, dan saling memaafkan—bukanlah milik satu hari saja. Ia adalah nilai yang seharusnya terus hidup dalam keseharian.

Sayangnya, dalam praktik sosial, semangat itu seringkali hanya bertahan sesaat. Setelah Ramadhan dan Idul Fitri berlalu, intensitas ibadah menurun, komunikasi antar keluarga kembali renggang, dan kepedulian sosial perlahan memudar. Di sinilah ironi itu muncul: kita merindukan suasana yang sebenarnya bisa kita jaga.

“Lebaran Blue” seharusnya menjadi alarm batin.

Baca Juga:Lapangan Becek, Ratusan Warga Griya Caraka Shalat Idul Fitri di MasjidSeribuan Warga Cirebon Shalat Id di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Jalan Tuparev

Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang hilang bukan karena waktu, tetapi karena kita tidak berusaha mempertahankannya. Kerinduan yang muncul setelah Lebaran bisa jadi bukan sekadar rindu pada keluarga, tetapi rindu pada versi diri kita yang lebih baik—lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Oleh karena itu, tantangan pasca-Lebaran bukanlah bagaimana menghindari kesedihan, melainkan bagaimana merawat nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan dan Idul Fitri. Silaturahmi tidak harus menunggu hari raya. Kepedulian tidak harus menunggu momentum. Dan kebaikan tidak seharusnya berhenti pada seremoni.

Kita perlu menggeser cara pandang: dari merayakan momen, menuju menjaga makna.

Lebaran memang telah usai. Ketupat telah habis, tamu-tamu telah pulang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Namun, jika nilai-nilai yang sempat menghangatkan hati itu ikut pergi, maka yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa ruh.

Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam Lebaran bukan terletak pada kemeriahannya, tetapi pada kemampuan kita menjaga cahaya kebaikan tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika suasana telah sunyi, bahkan ketika hari-hari kembali biasa.

Di situlah “Lebaran Blue” menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai tanda berakhirnya kebahagiaan, tetapi sebagai panggilan sunyi untuk menjaga agar kebahagiaan itu tetap hidup—di dalam hati, sepanjang waktu.

(Penulis adalah Dosen STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon)

0 Komentar