RADARCIREBON.ID – Kepemilikan akun media sosial (medsos) bagi anak di bawah 16 tahun yang dibatasi menjadi perbincangan banyak pihak. Tentu, ada yang pro, ada juga yang tak sepakat dengan kebijakan ini.
Psikolog Dinamika Gama Cirebon, Herlina S Dhewantara menilai kebijakan ini memiliki banyak sisi positif. Tapi pelaksanaannya tidak bisa berdiri sendiri. Harus diikuti peran orang tua dan lingkungan keluarga.
Psikolog yang juga praktik di RSIA Cahaya Bunda dan RS Permata Cirebon itu mengatakan pembatasan media sosial sebenarnya bisa menjadi langkah penting untuk mengurangi berbagai masalah yang muncul akibat penggunaan gawai terlalu dini.
Baca Juga:Menhaj Tekankan Layanan Haji Berbasis JamaahWFH Rawan Melenceng, DPR Khawatir Malah Dimanfaatkan ASN untuk Jalan-jalan
“Kalau melihat rencana pemerintah ini, dari sisi positif-negatifnya sebenarnya masih banyak positifnya. Karena memang banyak kasus yang terjadi gara-gara media sosial,” ujarnya kepada Radar Cirebon, Jumat (27/3/2026).
Herlina telah menjalani praktik sebagai psikolog selama 18 tahun. Dalam kurun waktu itu, ia melihat perubahan yang cukup signifikan pada pola interaksi anak dengan teknologi digital. Menurutnya, banyak persoalan psikologis pada anak yang berkaitan dengan penggunaan gawai dan media sosial sejak usia sangat dini.
Namun ia juga menilai pembatasan tersebut harus disertai pendekatan yang tepat. Terutama agar anak tidak merasa kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri. “Tapi pasti ada juga dampaknya. Harus ada peran serta dari orang tua dan pemerintah, supaya anak-anak yang belum 16 tahun tidak merasa seperti kehilangan tempat untuk mengekspresikan diri,” katanya.
Herlina menjelaskan, bagi sebagian anak dan remaja, media sosial sering menjadi tempat mengekspresikan diri. Mereka membuat konten, berbagi cerita, atau menunjukkan aktivitas sehari-hari. Karena itu pembatasan media sosial perlu diimbangi dengan ruang lain bagi anak untuk menyalurkan ekspresinya.
“Biasanya anak-anak itu punya banyak cara mengekspresikan diri, misalnya lewat konten di media sosial. Jadi kalau akses itu dihapus atau dibatasi, harus ada penggantinya,” jelasnya.
Menurutnya, ruang tersebut dapat dibangun melalui interaksi yang lebih kuat antara anak dan orang tua. Ia menilai kondisi keluarga saat ini justru sering menunjukkan situasi sebaliknya. Di banyak rumah, interaksi keluarga semakin berkurang karena masing-masing anggota keluarga sibuk dengan ponselnya. “Sekarang saja sering terlihat, kalau orang tua dan anak sedang berkumpul, semuanya malah sibuk membuka HP masing-masing,” ujarnya.
