Akun Medsos Anak Dibatasi, Psikolog Cirebon: Sediakan Ruang Ekspresi Lain

Akun Medsos Anak Dikunci
Kebijakan ini memiliki banyak sisi positif. Tapi pelaksanaannya tidak bisa berdiri sendiri. Harus diikuti peran orang tua dan lingkungan keluarga. Ilustrasi: Eep
0 Komentar

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana gawai secara perlahan menggantikan komunikasi langsung dalam keluarga. Padahal interaksi langsung sangat penting bagi perkembangan emosional anak. Salah satu fenomena yang paling sering ia temui adalah kebiasaan anak menonton video pendek secara terus-menerus. Menurutnya, kebiasaan tersebut bisa memengaruhi kemampuan fokus anak.

“Anak-anak sekarang banyak yang menghabiskan waktu dengan scroll TikTok. Video-video pendek itu sebenarnya mempengaruhi daya fokus mereka, termasuk kebiasaan belajar,” kata Herlina.

Konten dengan durasi singkat membuat otak anak terbiasa menerima rangsangan visual yang cepat. Akibatnya, ketika harus melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, anak menjadi lebih mudah kehilangan fokus. Perubahan pola konsumsi konten digital ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Terutama sejak penggunaan ponsel pintar semakin meluas di kalangan anak-anak.

Baca Juga:Menhaj Tekankan Layanan Haji Berbasis JamaahWFH Rawan Melenceng, DPR Khawatir Malah Dimanfaatkan ASN untuk Jalan-jalan

Dalam praktiknya sebagai psikolog, Herlina kerap menangani anak yang mengalami gangguan konsentrasi. Beberapa di antaranya dibawa orang tuanya karena kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. Setelah ditelusuri, penggunaan gawai sejak usia sangat dini sering menjadi salah satu faktor.

“Ketika saya tanya penggunaan gawainya sejak kapan, ternyata sudah sejak usia sangat kecil. Bahkan di bawah lima tahun sudah sering menggunakan HP,” ungkapnya.

Ia juga menemukan kasus anak usia balita yang sudah terbiasa menonton video melalui ponsel atau televisi. Kondisi tersebut kadang membuat orang tua khawatir anak mengalami gangguan perkembangan. “Kadang orang tua khawatir itu autism. Padahal sering kali karena terlalu sering terpapar layar,” katanya.

Paparan layar yang terlalu dini dapat memengaruhi perkembangan perhatian anak. Anak menjadi terbiasa dengan stimulasi visual yang cepat dan terus berganti. Akibatnya, mereka kesulitan mempertahankan konsentrasi dalam waktu lama.

Herlina menilai pembatasan media sosial berpotensi membantu mengurangi sejumlah risiko pada anak. Di antaranya kecanduan gawai, cyberbullying, hingga gangguan konsentrasi. Namun ia menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak cukup jika hanya berbentuk larangan.

“Tapi tetap harus ada struktur dari orang tua dan juga pemerintah, misalnya dengan menyediakan kegiatan-kegiatan lain supaya anak-anak tidak terlalu fokus pada gawai di usia mereka,” jelasnya.

0 Komentar