Akun Medsos Anak Dibatasi, Psikolog Cirebon: Sediakan Ruang Ekspresi Lain

Akun Medsos Anak Dikunci
Kebijakan ini memiliki banyak sisi positif. Tapi pelaksanaannya tidak bisa berdiri sendiri. Harus diikuti peran orang tua dan lingkungan keluarga. Ilustrasi: Eep
0 Komentar

Ia menilai kegiatan alternatif sangat penting agar anak memiliki pilihan aktivitas lain selain menggunakan gawai. Misalnya kegiatan olahraga, seni, atau aktivitas sosial yang melibatkan interaksi langsung.

Selain kebijakan pemerintah, pengawasan penggunaan gawai di rumah juga menjadi faktor penting. Herlina menilai keluarga perlu memiliki aturan yang jelas mengenai penggunaan gawai. Mulai dari waktu penggunaan hingga jenis konten yang boleh diakses. “Di keluarga harus ada aturan. Misalnya boleh akses gawai jam berapa sampai jam berapa malam,” ujarnya.

Selain itu orang tua juga perlu memperhatikan jenis konten yang dikonsumsi anak. Beberapa platform dinilai memiliki risiko paparan konten yang lebih tinggi. “Kalau YouTube misalnya masih bisa dipilihkan, tapi kalau TikTok atau Instagram sebaiknya dibatasi,” katanya.

Baca Juga:Menhaj Tekankan Layanan Haji Berbasis JamaahWFH Rawan Melenceng, DPR Khawatir Malah Dimanfaatkan ASN untuk Jalan-jalan

Menurutnya aturan tersebut juga harus berlaku untuk semua anggota keluarga. Termasuk orang tua. Karena dalam banyak kasus, anak justru meniru kebiasaan orang tuanya menggunakan ponsel. “Kalau ada aturan juga harus berlaku untuk semua, termasuk orang tuanya. Karena sering kali justru orang tua yang paling banyak menggunakan HP,” ujarnya.

Ia juga melihat bahwa banyak anak sebenarnya masih membutuhkan interaksi langsung dengan orang tua. “Kalau anak diberi pilihan, misalnya main dengan orang tua atau main HP, banyak anak sebenarnya memilih bermain dengan orang tuanya,” kata Herlina.

Terkait batas usia 16 tahun, Herlina menilai usia tersebut merupakan masa peralihan menuju remaja. Pada fase ini, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya mulai meningkat. Remaja menjadi lebih sensitif terhadap penilaian orang lain. “Remaja itu sangat membutuhkan penerimaan dari kelompoknya. Jangan sampai mereka merasa tertinggal dari teman-temannya,” ujarnya.

Media sosial sering menjadi salah satu sarana bagi remaja untuk terhubung dengan lingkaran pertemanan mereka. Karena itu pembatasan media sosial juga harus mempertimbangkan dinamika sosial tersebut. Namun di sisi lain, pembatasan tersebut juga dapat mengurangi paparan berbagai konten negatif. Mulai dari komentar yang merendahkan hingga konten pornografi. “Remaja itu sangat sensitif terhadap kritik dari orang lain. Kalau terlalu banyak terpapar media sosial, mereka bisa lebih mudah terpengaruh,” katanya.

0 Komentar