Data produksi kendaraan mencatat ada 57 unit armada kedatangan dan 54 unit armada keberangkatan dalam 24 jam terakhir. Secara statistik, arus balik sedang berada pada puncaknya. Namun, angka-angka ini tidak tercermin sepenuhnya di dalam terminal.
Mengapa? Jawabannya ditemukan hanya beberapa meter di luar gerbang terminal. Di Jalan Raya Bypass, terminal “bayangan” justru jauh lebih hidup dan liar. Keluar sedikit ke arah Jalan Raya Bypass, suasananya berubah drastis. Hiruk pikuk. Semrawut. Di sana, bus-bus antarkota hingga angkutan Elf terlihat berderet ngetem di bahu jalan. Padahal, rambu larangan parkir terpampang jelas.
Sebuah bus medium berkelir putih-biru nampak berhenti tepat di depan deretan ruko. Moncong bus-bus ini hanya berjarak beberapa meter dari gerai minimarket. Tak jauh dari situ, angkutan elf ngetem dengan pintu terbuka lebar. Arus lalu lintas sesekali tersendat. Klakson bersahutan. Asap knalpot mengepul di antara motor-motor yang berdesakan melintas. Bus-bus ini seolah menantang rambu larangan parkir yang berdiri kaku di pinggir jalan.
Baca Juga:Jaksa Persidangan Kasus Gedung Setda Kota Cirebon Luruskan soal Barang Bukti, Eksepsi Azis Cs DitolakMulai Hari Ini, Negara Kunci Medsos Anak, Menkomdigi: Ini Hasil Diskusi Panjang
Kepala Terminal Tipe A Harjamukti, Joko Santoso, tak menampik realita pahit ini. Ia mengakui dilema tersebut. Joko sering menyaksikan pemandangan bus ngetem di luar saat berangkat kerja. Kondisi ini seperti sudah menjadi rahasia umum yang sulit diurai karena menyangkut ego sektoral dan kebiasaan masyarakat.
“Kami sudah imbau. Sesuai regulasi, menaikkan dan menurunkan penumpang harus di terminal. Tapi penumpang pengennya turun dekat domisili. Posisi terminal kita memang terlalu menjorok ke dalam,” ujar Joko saat dikonfirmasi di ruangannya, Minggu (29/3/2026).
Faktor aksesibilitas menjadi alasan utama. Joko bilang, tidak ada moda transportasi penghubung seperti angkot yang masuk ke dalam terminal untuk mengantar penumpang ke tujuan akhir. Akibatnya, penumpang merasa lebih praktis menunggu di pinggir jalan raya daripada masuk ke area gedung yang jauh dari akses jalan utama.
Upaya untuk mengajak angkot dan Elf masuk ke terminal bukannya tidak ada. Joko mengaku sudah mencoba melakukan berbagai lobi. Ia mengundang aliansi pengemudi angkot dan Elf melalui Organda. Namun upaya tersebut membentur tembok besar bernama kelayakan jalan.
