RADARCIREBON.ID -Musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih awal di wilayah Cirebon. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Barat, sebagian wilayah Cirebon mulai memasuki musim kemarau sejak akhir April dan akan meluas pada Mei 2026.
Dari peta prakiraan BMKG, wilayah pesisir utara Cirebon diperkirakan menjadi daerah yang lebih dulu mengalami musim kering. Sementara itu, wilayah tengah hingga selatan diprediksi menyusul pada awal hingga pertengahan Mei.
Secara umum, mayoritas wilayah Jawa Barat, termasuk Cirebon, diprakirakan telah memasuki musim kemarau pada Mei.
Baca Juga:Pendaftaran Haji Bisa Lewat Octo MobileRumah Penerima Bansos di Majalengka Dipasang Stiker
Forecaster Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Diana Hertanti menjelaskan, percepatan musim kemarau dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang menyebabkan penurunan curah hujan secara bertahap sejak akhir April.
“Awal musim kemarau di sebagian wilayah Cirebon diprakirakan terjadi lebih cepat, dengan kecenderungan curah hujan yang lebih rendah dari normal,” ujar Diana Hertanti.
BMKG juga memprediksi sifat hujan pada musim kemarau tahun ini didominasi kategori bawah normal.
Artinya, curah hujan lebih rendah dari biasanya dengan periode hari tanpa hujan yang lebih panjang.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi mencapai 13 hingga 15 dasarian atau sekitar empat hingga lima bulan.
Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau terasa lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun normal.
BMKG mengingatkan, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi berdampak pada berbagai sektor, terutama ketersediaan air dan pertanian.
Baca Juga:Daniel Santuni Puluhan Anak YatimAlfamart Hadirkan Warteg Gratis, Masih Tersedia, Ada di Kecamatan Ini
“Potensi kekeringan meteorologis hingga berkurangnya pasokan air bersih perlu diantisipasi sejak dini, termasuk melalui penyesuaian pola tanam,” tambah Diana.
Selain itu, dampak lain yang berpotensi muncul antara lain terganggunya sistem irigasi serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah yang rentan kering.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipasi, seperti pengelolaan sumber daya air secara optimal serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan.
“Dengan langkah mitigasi yang tepat, semoga berbagai sektor di Cirebon, terutama pertanian dan pengelolaan air, dapat lebih siap menghadapi musim kemarau 2026,” harapnya. (awr)
