Cirebon Miliki Salam Baru; 'Kula – Nuun', Apa Maknanya?

salam kula nun
Salam Kula Nun diperkenalkan di Hari Jadi Kabupaten Cirebon. Foto: Pemkab Cirebon - radarcirebon.id
0 Komentar

Tapi bisa jadi tidak begitu. Saya belum paham karena belum ada contoh dari pihak Pemkab Cirebon. Kita tunggu saja salam yang dipraktikkan Bupati Cirebon, Imron dalam sambutannya di acara sidang paripurna hari jadi, hari ini.

Jika merunut dari kata yang dipilih; “Kula” dan “Nuun”, salam tersebut berakar dari bahasa Jawa. Dua kata tersebut juga digunakan oleh sebagian besar Masyarakat Cirebon dan Indramayu.

Dalam masyarakat Jawa, yang saya tahu, ada perbedaan dalam menjawab panggilan. Biasanya ada 4 kata yang digunakan, yakni : “Dalem”, “Kula”, “Nuun” dan “Nggih” saat menjawab panggilan.

Baca Juga:Peran Baru Calvin Verdonk Jadi Sorotan di Laga Timnas Indonesia vs BulgariaPrioritaskan Keselamatan Jamaah HajiĀ 

“Dalem” dan “Kula” memiliki arti yang sama, yakni “saya”. Dua kata itu dipakai sebagai bentuk sopan santun jika namanya dipanggil oleh seseorang yang kita hormati.

Sementara kata “Nuun” menurut sepengetahuan saya, merupakan jawaban ketika nama anak dipanggil. Dalam bahasa Jawa, “Nuun” melambangkan sebuah kepasrahan. Menunjukkan sebuah penyerahan diri dan bentuk kehormatan kepada yang memanggil.

Biasanya jawaban itu ditujukan kepada orang yang lebih tua. Karenanya “Nuun” tidak digunakan untuk menjawab panggilan dari temen sebaya. Karena “Nuun” menjawab dari panggilan orang yang kita hormati.

Ada yang mengatakan jika “Nuun” itu tidak berasal dari bahasa Jawa. Konon kata itu berasal dari bahasa Osing. Bahasa suku Osing, penduduk asli Banyuwangi, Jawa Timur.

Sementara “Nggih”, artinya “Ya”. Jadi jika nama dipanggil bisanya kemudian dijawab “Nggih” itu artinya “Ya”.

Tapi saya kurang tahu persis, apakah; “Kula – Nuun” yang menjadi salam resmi masyarakat Cirebon tersebut, pengertiannya sama dengan yang berlaku di Jawa? Atau ada makna yang lain? Kita tunggu saja penjelasan remi dari Pemkab Cirebon.

0 Komentar