Akibatnya, sampah yang tertahan di jaring semakin menumpuk. Kondisi tersebut terlihat dari hamparan sampah yang memenuhi permukaan air. Taufik menilai pemasangan jaring sampah sebenarnya merupakan langkah yang baik.
Namun tanpa pemeliharaan yang rutin, keberadaan jaring tersebut tidak memberikan dampak maksimal. “Tujuannya sudah baik. Tapi pemantauan dan pemeliharaannya tidak dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya, sampah yang berada di Sungai Kalibaru sebagian besar bukan berasal dari warga sekitar. Ia menegaskan warga di wilayahnya sudah memiliki tempat pembuangan sampah sendiri. Karena itu ia tidak menginstruksikan warga untuk ikut membersihkan sampah di sungai saat sempat ada ajakan kerja bakti.
Baca Juga:Tambah Anggaran Rp24,8 Triliun, Usulan Menag untuk Madrasah dan Sekolah KeagamaanPolemik Pembongkaran Jembatan Rel Kalibaru, KAI Koordinasi Internal, Komunikasi dengan Disbudpar Sudah Jalan
Menurutnya persoalan sampah di sungai lebih banyak disebabkan oleh sampah kiriman dari wilayah lain yang terbawa arus air. “Yang di sungai itu sampah kiriman dari berbagai wilayah yang hanyut dan terbawa aliran air,” ujarnya.
Kondisi tersebut terlihat jelas di aliran Sungai Kalibaru. Sampah plastik, botol minuman, hingga potongan styrofoam mengapung di permukaan air. Di beberapa titik bahkan terlihat gumpalan sampah yang menutupi sebagian aliran sungai. (ade)
