Data tersebut meliputi nama pengajar serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Langkah ini dilakukan agar kegiatan keagamaan siswa tetap dapat berjalan meskipun jadwal sekolah berubah.
Menurut Apriani, pada tahap awal penerapan sistem baru ini memang membutuhkan proses penyesuaian. Namun ia optimistis siswa dan guru akan dapat beradaptasi seiring berjalannya waktu.
Ia menyebut sebagian siswa terlihat senang dengan perubahan sistem tersebut, terutama karena kini mereka memiliki dua hari libur pada akhir pekan. “Yang sering mereka sampaikan justru senang karena sekarang liburnya Sabtu dan Minggu,” ujarnya.
Baca Juga:Tambah Anggaran Rp24,8 Triliun, Usulan Menag untuk Madrasah dan Sekolah KeagamaanPolemik Pembongkaran Jembatan Rel Kalibaru, KAI Koordinasi Internal, Komunikasi dengan Disbudpar Sudah Jalan
Meski demikian, sekolah tetap menyiapkan mekanisme evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Apriani menjelaskan bahwa jadwal yang diterapkan saat ini masih bersifat uji coba.
Evaluasi akan dilakukan setelah satu bulan pelaksanaan. Hasil evaluasi tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk melakukan perbaikan, termasuk kemungkinan revisi jadwal kegiatan sekolah.
Selain dari sisi manajemen sekolah, perubahan pola belajar juga dirasakan langsung oleh para guru. Guru SDN Sadagori 1, Rizsky Nuramalia yang akrab disapa Ibu Kiki, menilai sistem lima hari sekolah memberi ruang lebih luas bagi guru untuk mempersiapkan pembelajaran.
Menurutnya, setelah siswa pulang sekolah, guru masih memiliki waktu untuk menyiapkan materi pelajaran hari berikutnya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini para guru di sekolah tersebut memang sudah terbiasa pulang pada sore hari karena berbagai kegiatan sekolah. “Dengan pola lima hari sekolah, waktu bersama keluarga pada akhir pekan menjadi lebih banyak,” ucapnya.
Selain itu, metode pembelajaran di kelas juga berpotensi mengalami penyesuaian. Karena waktu belajar berlangsung hingga siang hari, guru berencana menambahkan metode pembelajaran yang lebih interaktif agar siswa tidak mudah merasa jenuh. Salah satunya melalui permainan edukatif yang tetap berkaitan dengan materi pelajaran.
Menurut Rizsky, metode tersebut penting untuk menjaga semangat belajar siswa, terutama pada jam-jam belajar menjelang siang. Selain permainan, guru juga memberikan berbagai bentuk penghargaan kepada siswa yang aktif di kelas.
Baca Juga:Jaksa Panggil Saksi Bank Cirebon, Semakin Terang setelah Ada Hasil Audit BPK, Kerugian Negara Sekitar Rp30 MDimulai, SDN Kota Cirebon KBM 5 Hari, Jalan Pekan Ini, Disdik Sebut Uji Coba
Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan sistem poin menggunakan uang mainan yang dikumpulkan selama satu semester. Poin tersebut dapat diperoleh dari berbagai aktivitas, seperti keaktifan menjawab pertanyaan, kehadiran, maupun kedisiplinan siswa.
